News

Potret Inklusif di Tanah Papua, Presiden Diaspora Network LA dan Danlanud Manuhua Biak Bersatu dalam Kemanusiaan di Vihara Buddha Dharma



Oleh: Ariella Hana Sinjaya

PORTALUTAMA.NET, BIAK (1/8) — Menyambut puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-40 Vihara Buddha Dharma Biak yang jatuh pada 3 Agustus mendatang, sebuah aksi kemanusiaan nyata digelar di kompleks vihara pada Sabtu pagi (1/8/2026). Kegiatan donor darah ini berhasil mengumpulkan puluhan kantong darah untuk menyuplai kebutuhan medis masyarakat di Kabupaten Biak Numfor.

Ada pemandangan menarik yang menegaskan kuatnya rasa toleransi dan sinergi di Bumi Cendrawasih dalam kegiatan tersebut. Komandan Lanud Manuhua Biak, Marsekal Pertama Kusmayadi, hadir langsung di lokasi acara. Tidak sendiri, Danlanud tampak didampingi oleh tokoh masyarakat yang juga merupakan Presiden Indonesian Diaspora Network (IDN) Los Angeles, Butce Lie.
Kehadiran sosok Butce Lie yang membawa jejaring diaspora global ke tanah tempat ia dibesarkan di Biak, bersanding dengan pimpinan komando pertahanan udara Lanud Manuhua Biak, menunjukkan bahwa aksi kemanusiaan dan momentum ulang tahun vihara ini mampu menyatukan berbagai elemen lintas sektoral, bahkan lintas keyakinan.

Pesona Arsitektur Nusantara dan Jejak Sejarah yang Mengakar
Kegiatan donor darah yang dipusatkan di Gedung Pusdiklat Buddha Dharma ini dibingkai oleh kemegahan arsitektur kompleks vihara yang sangat ikonik. Vihara Buddha Dharma Biak, yang memegang sejarah sebagai vihara pertama di Tanah Papua, memiliki keunikan visual yang langsung mencuri perhatian siapa saja yang berkunjung.

Berbeda dengan vihara pada umumnya yang didominasi ornamen merah menyala khas oriental, bangunan utama vihara ini mengusung konsep lokalitas Indonesia yang berkiblat pada struktur megah Candi Borobudur. Dengan balutan warna abu-abu batu yang kokoh dan dikelilingi stupa, bangunan ini berdiri berdampingan secara kontras namun harmonis dengan sebuah Pagoda megah setinggi 26,55 meter yang menjulang dengan 5 lantai di sisinya.

Kemegahan fisik yang berdiri hari ini tidak lepas dari sejarah panjang kerelaan para perintisnya terdahulu. Berdasarkan catatan sejarah yang dihimpun Ariella Hana, tempat ibadah bersejarah ini memiliki ikatan emosional yang kuat dengan keluarga Butce Lie. Di masa mudanya, sang ibunda, Anna Arya Ratna Suryani Kong, terlibat aktif sejak awal sebagai salah satu anggota Panitia Pembangunan Vihara Buddha Dharma Biak dan memberikan kontribusi nyata dalam berbagai bentuk. Mama Anna juga aktif menyuarakan pesan damai sebagai penceramah di RRI Biak pada masa itu. Beliau dipercaya menjadi Ketua IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) pada 1987-1992, dan komunitas memberikan penghormatan dengan menjuluki Mama Anna sebagai “Kartini-nya Peranakan Tionghoa di Biak.”



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *