News

Diaspora Indonesia di Belanda: Jika Yamal, Messi, Ronaldo Lahir di RI, Mungkin Tak Akan Jadi Bintang Dunia



PORTALUTAMA.NET, BELANDA – Kisah Lamine Yamal, Lionel Messi, dan Cristiano Ronaldo kembali menjadi perbincangan. Tiga nama besar sepak bola dunia itu disebut sebagai bukti nyata bagaimana bakat yang bertemu dengan sistem yang tepat bisa mengantarkan seseorang ke puncak dunia.

Hal itu disampaikan Dimas Budi Prasetyo, diaspora Indonesia yang bermukim di Belanda sekaligus alumni Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam tulisannya yang viral di media sosial.

Menurut Dimas, kisah ketiganya bukan hanya tentang talenta, tetapi juga tentang sistem pendukung yang memungkinkan mereka tumbuh.

Dari Tekanan Hidup ke Panggung Dunia

Dimas mengutip jawaban Lamine Yamal saat ditanya soal tekanan di Piala Dunia di usia muda. Dengan tenang, Yamal menyampaikan jawaban yang menginspirasi.

“Ibuku melahirkanku saat berusia 16 tahun dan ayahku harus mencari cara mencari makanan untuk dibawa ke rumah. Itulah tekanan yang sebenarnya. Tugas saya hanya bermain bola dan membuat orang-orang Spanyol berbahagia,” kata Yamal.

Yamal, lanjut Dimas, hanya satu dari sekian bocah di Spanyol yang lahir dari keluarga miskin. Begitu juga dengan Pau Cubarsi, bek muda yang orang tuanya berasal dari kelas bawah.

“Tapi ketika mereka punya mimpi dan bakat, kemudian diwujudkan dengan kerja keras, sistem yang baik membuat mereka mampu naik kelas. Tidak hanya menjadi kelas menengah, tapi menuju panggung kelas dunia,” ujar Dimas dikutip fajar.co.id, Selasa (21/7/2026).

Messi dan Terapi, Ronaldo dan Kerja Keras

Dimas lalu menyoroti Lionel Messi. Bocah ajaib dari Rosario itu didiagnosa mengidap Growth Hormon Deficiency saat kecil. Pertumbuhan tingginya lebih lambat dari anak seusianya.

“Beruntung, Messi lahir dari orang tua berkecukupan sehingga dia bisa menjalani terapi suntik hormon di usia 10-11 tahun. Bakatnya itu kemudian mengantarkan dia ke akademi La Masia Barcelona,” jelasnya.

Di usia 13 tahun, Messi dan keluarganya pindah ke Spanyol. Sisanya, menurut Dimas, sudah menjadi sejarah.

Sementara, Cristiano Ronaldo berasal dari keluarga sederhana di Madeira, Portugal. Ayahnya tukang kebun dan kit man (orang yang bertugas membawa peralatan bermain bola). Ibunya juru masak dan petugas kebersihan.

Dimas menceritakan, Ronaldo pernah mengajak putranya, Cristiano Jr, ke rumah masa kecilnya. Di sana Ronaldo menunjukkan kamar tempat ia tidur bertumpuk dengan saudara-saudaranya.

“Bagaimana kamu bisa hidup dengan kondisi seperti itu, Ayah?” tanya Cristiano Jr. Ronaldo hanya tersenyum.

Dengan dedikasi dan kerja keras, Ronaldo kini menjadi atlet dengan bayaran tertinggi di dunia, dengan estimasi sekitar Rp5 triliun per tahun.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *