News

Guru Besar Unair: Prabowo Harus Setop Pidato Ngawur, Ucapanmu adalah Harimaumu



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Prof Henri Subiakto, menyampaikan kritik pedas terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Ia meminta kepala negara mengevaluasi diri agar tidak membuat rakyat resah hingga marah akibat pidato yang dinilai hampir setiap pekan.

Baginya, suara rakyat kecil adalah “voice of voiceless” yang tidak muncul di sekitar presiden.

“Suara rakyat kecil itu voice of voiceless, menyuarakan aspirasi yang gak muncul di sekitar Presiden. Walau suara dari orang-orang sederhana tapi justru sesuai dengan suasana hati dan emosi rakyat kecil kepada pemimpinnya,” ujar Prof Henri, dikutip fajar.co.id, Selasa (21/7/2026).

Prof Henri: Jangan Remehkan Suara Rakyat

Prof Henri mengingatkan agar Prabowo tidak menyepelekan suara rakyat yang mengungkap kejengkelan dan kekecewaan.

“Prabowo jangan menyepelekan suara rakyat. Jangan remehkan mereka yang mengungkap kejengkelan dan kekecewaan hati mereka,” ucapnya.

Ia memperingatkan bahwa kemarahan digital atau digital rage bisa berubah menjadi kemarahan massa yang berbahaya.

“Kalau kemarahan digital (digital rage) berubah jadi kemarahan massa yang ditunggangi kekuatan politik yang punya jago sudah siap dan ingin jadi presiden, Indonesia bisa berbahaya,” tegasnya.

Minta Setop Pidato dan Bicara Ngawur

Lebih lanjut, Prof Henri meminta Prabowo menghentikan kebiasaan berpidato yang dinilainya tidak terkendali dan kerap meremehkan rakyat.

“Makanya Prabowo harus setop pidato dan bicara ngawur. Jangan mengumbar ucapan yang malah ngeledek dan meremehkan rakyatnya sendiri,” imbuhnya.

Prof Henri kemudian memberikan peringatan keras bahwa ucapan seorang pemimpin dapat menjadi bumerang di kemudian hari.

“Ingat, ucapanmu adalah harimaumu. Suatu hari bisa menghancurkanmu,” kuncinya.

Sebelumnya, video yang diunggah akun TikTok @27aprilia menjadi perbincangan luas di media sosial.

Dalam video tersebut, ia menyampaikan kritik menohok kepada Presiden Prabowo Subianto menyusul pernyataan yang dianggap menyuruh masyarakat pergi ke luar negeri apabila terus memprotes kebijakan pemerintah.

Video itu ramai dibagikan di berbagai platform karena menggunakan bahasa Jawa dengan nada emosional.

Dalam video tersebut, perempuan itu mempertanyakan sikap seorang kepala negara yang, menurutnya, justru terkesan mengusir rakyatnya sendiri.

“Ndewe Presiden koplak yo. Iki eneng toh Presiden ngusir rakyate (Kamu ini presiden yang keterlaluan. Memangnya ada presiden yang mengusir rakyatnya sendiri?),” ujar perempuan tersebut dikutip fajar.co.id, Selasa (21/7/2026).

Ia kemudian menegaskan bahwa Indonesia bukan milik pribadi siapa pun, termasuk presiden.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *