Semifinal Piala Dunia 2026: Pembelajaran buat Sang “Coach” Negeri

Oleh: Andi Muhammad Jufri (Praktisi Pembangunan Sosial)
PORTALUTAMA.NET, OPINI — Pertarungan Prancis vs Spanyol (15 Juli 2026) dan Inggiris vs Argentina (16 Juli 2026) dibabak semifinal menarik dan ditunggu oleh pecinta bola di sentero dunia. Dari warung kopi pinggir jalan sampai kafe di hotel mewah, berjuta mata akan menyaksikan semifinal piala 2026 ini.
Prancis vs Spanyol akan menyajikan duel Mbappé melawan Lamine Yamal yang menjadi simbol pergantian generasi: sang raja melawan pewaris takhta. Sementara Inggiris dan Argentina akan mengingatkan luka sejarah yang tak pernah hilang, “Hand of God”, perang narasi, dan kontroversi wasit.
Piala Dunia 2026 yang telah memasuki babak semifinal. Keempat negara yang tersisa di lapangan hijau : Argentina, Inggris, Prancis, dan Spanyol, telah berhasil melewati badai pertandingan, tekanan suporter, serta kerasnya persaingan antarnegara. Di babak ini tidak ada lagi tim lemah. Tidak ada ruang bagi kesalahan kecil. Satu umpan yang salah dapat berakhir gol. Satu kelengahan dapat mengubur mimpi yang dibangun selama bertahun-tahun.
Semifinal bukan sekadar pertarungan teknik dan strategi. Ia adalah ujian mental. Ujian kepemimpinan. Ujian kemampuan membaca arah permainan di tengah tekanan yang datang dari segala sisi. Di sinilah kualitas sejati sebuah tim diuji. Bukan ketika menghadapi lawan yang mudah, melainkan ketika berhadapan dengan lawan yang sama kuatnya.
Negeri ini sesungguhnya sedang berada dalam situasi yang tidak jauh berbeda. Indonesia memang bukan peserta Piala Dunia, tetapi sedang memainkan pertandingan besar bernama pembangunan bangsa. Pemerintahan Prabowo baru memasuki lapangan dengan membawa harapan jutaan rakyat. Namun seperti tim semifinalis, lawan yang dihadapi bukan lagi lawan biasa.
Dari dalam negeri, serangan datang dalam bentuk korupsi yang tak kunjung pensiun, birokrasi yang lamban, kesenjangan ekonomi, kriminalitas, narkoba, serta rendahnya disiplin sebagian aparatur negara. Dari luar negeri, gelombang ketidakpastian ekonomi global, perang dagang, konflik geopolitik, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi terus menekan. Tidak sedikit negara yang akhirnya kehilangan keseimbangan karena gagal membaca arah permainan dunia.
Dalam pertandingan sebesar ini, Presiden Prabowo tidak cukup hanya menjadi pemain bintang. Ia harus menjadi kapten sekaligus pelatih “coach” yang mampu menjaga ruang ganti tetap solid. Sebab banyak pertandingan besar tidak kalah karena kualitas lawan, melainkan karena keretakan di dalam tim sendiri.
Source link
