Gol Bunuh Diri Runtuhkan Moral

Oleh: Andi Muhammad Jufri, Praktisi Pembangunan Sosial
Gol! Gol! Gol!
Tak ada suara yang lebih membakar semangat di sebuah stadion selain pekikan itu. Satu gol mampu mengubah wajah pertandingan. Pencetak gol dielu-elukan bak pahlawan. Rekan setim berlari memeluknya. Pelatih mengepalkan tangan. Puluhan ribu suporter melompat, bernyanyi, menangis haru.
Dalam sepak bola, gol bukan sekadar angka. Ia adalah harga diri, harapan, dan penentu siapa yang layak disebut pemenang.
Selama sembilan puluh menit, bahkan hingga perpanjangan waktu dan adu penalti, seluruh strategi dibangun hanya untuk satu tujuan: menciptakan gol. Sebab sejarah tidak pernah mencatat siapa yang paling lama menguasai bola. Sejarah hanya mengingat siapa yang berhasil memasukkannya ke gawang lawan.
Namun, sepak bola juga mengenal sebuah ironi.
Gol yang paling menyakitkan justru terkadang lahir bukan dari kecerdikan lawan, melainkan dari kesalahan kawan sendiri. Seorang bek yang salah mengantisipasi bola. Seorang penjaga gawang yang keliru membaca arah tendangan. Sebuah sundulan yang mestinya menyelamatkan, tetapi justru menggetarkan jala gawang sendiri.
Itulah gol bunuh diri. Gol yang tidak hanya mengubah skor, tetapi juga meruntuhkan moral seluruh tim.
Piala Dunia 2026 menghadirkan ironi itu dalam jumlah yang mencengangkan. Sejak fase grup hingga babak gugur telah tercipta 14 gol bunuh diri, melampaui rekor Piala Dunia 2018 di Rusia. Ironisnya, “gol bunuh diri” justru menjadi pencetak gol terbanyak, mengalahkan para bintang yang selama ini dipuja dunia. Lionel Messi, Ronaldo, Kylian Mbappé, Harry Kane, hingga Vinícius Jr. seolah harus mengalah kepada satu “pemain” yang tak pernah masuk daftar nominasi: kesalahan sendiri.
Argentina pernah diuntungkan ketika tendangan sudut Lionel Messi mengenai bek Tanjung Verde, Diney Borges, lalu berbelok masuk ke gawangnya sendiri. Amerika Serikat pun memperoleh keuntungan serupa ketika Cameron Burgess tanpa sengaja menjebol gawang Australia.
Lawan tentu bergembira. Mereka tidak perlu bekerja terlalu keras. Kemenangan datang karena dibantu oleh kaki lawannya sendiri.
Bukankah kehidupan berbangsa juga sering memperlihatkan pertandingan seperti itu?
Musuh terbesar sebuah negara sering kali bukan datang dari luar. Bukan dari ancaman asing. Bukan pula dari kompetitor. Musuh terbesar justru lahir dari dalam ruang ganti, mengenakan seragam yang sama, berdiri di barisan yang sama, bahkan mengucapkan sumpah yang sama.
Pemerintahan Prabowo telah menjadikan pemberantasan korupsi sebagai salah satu pertandingan paling penting yang harus dimenangkan. Tiga penyerang utama diturunkan: Kepolisian, KPK, dan Kejaksaan Agung. Mereka diharapkan menyerang korupsi tanpa kompromi sekaligus menjaga gawang kepercayaan rakyat.
Source link
