News

Heriwawan: Dakwah Muhammadiyah Tidak Boleh Hanya dari Mimbar Masjid



PORTALUTAMA.NET, JENEPONTO — Sebanyak 13 Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah se-Kabupaten Jeneponto resmi dikukuhkan secara serentak dalam satu majelis di Gedung Serbaguna Aisyiyah Jeneponto, Sabtu (27/6/2026) kemarin.

Momentum tersebut menjadi penanda estafet kepemimpinan baru sekaligus penguatan peran kader muda Muhammadiyah dalam menjawab berbagai tantangan kebangsaan.

Pelantikan yang mengusung tema, ‘Pemuda Negarawan, Pemimpin Masa Depan Bangsa’ itu dihadiri jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Aisyiyah Jeneponto, Wakapolres Jeneponto Kompol Sahabuddin, serta sejumlah perwakilan organisasi kepemudaan.

13 Cabang Dilantik dalam Satu Majelis

Pelantikan serentak tersebut menghadirkan ketua umum baru dari 13 Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah di Kabupaten Jeneponto.

Ratusan kader dari berbagai kecamatan turut memadati Gedung Serbaguna Aisyiyah untuk menyaksikan prosesi pelantikan yang berlangsung khidmat.

Suasana semakin khusyuk saat Ketua Umum Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Heriwawan, naik ke mimbar.

Ia didampingi personel Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) berdiri tegap mengawal jalannya prosesi.

Pada kesempatan itu, Heriwawan mengajak para kader muda Muhammadiyah untuk tidak hanya aktif di organisasi, tetapi juga mengambil bagian dalam berbagai agenda strategis bangsa.

“Seorang pemuda negarawan harus hadir dan terlibat aktif dalam setiap agenda besar kebangsaan,” ujar Heriwawan.

Dikatakan Heriwawan, organisasi merupakan ruang perjuangan yang membutuhkan komitmen dan ketekunan, bukan sekadar tempat mencari jabatan atau pengakuan.

“Kita perlu memahami bahwa berorganisasi adalah sebuah jalan perjuangan yang panjang dan melelahkan,” tegasnya.

Dakwah Tidak Hanya dari Mimbar

Sebagai anggota DPRD Sulsel, Heriwawan juga menekankan pentingnya memperluas makna dakwah Muhammadiyah hingga ke ruang-ruang pengambilan kebijakan.

Ia mengajak kader Pemuda Muhammadiyah untuk berani terjun ke dunia politik maupun birokrasi sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

“Dakwah Muhammadiyah itu luas, ia tidak boleh dikurung hanya di atas mimbar-mimbar masjid,” Heriwawan menuturkan.

“Mari kita dorong kader-kader kita untuk aktif di parlemen sebagai legislatif, atau mengabdi di birokrasi sebagai eksekutif,” tambahnya.

Kata dia, hal tersebut merupakan bagian dari manifestasi dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

“Kita merebut ruang-ruang itu untuk kemaslahatan umat,” imbuhnya.

Baginya, masjid, kampus, hingga parlemen merupakan ruang yang sama-sama penting untuk menghadirkan nilai-nilai dakwah dan kemaslahatan bagi masyarakat.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *