News

Demo Besar Mahasiswa di Makassar Hari Ini, Arus Lalu Lintas Diprediksi Lumpuh, Hindari Titik Rawan Ini



PORTALUTAMA.NET, MAKASSAR — Ratusan mahasiswa dan pemuda di kota Makassar direncanakan menggelar aksi unjuk rasa di berbagai titik sentral pada Senin (22/6/2026).

Berdasarkan informasi yang didapatkan fajar.co.id, aksi unjuk rasa ini masih bertajuk seputar Reformasi Jilid II yang disuarakan sebelumnya.

Di antara kelompok mahasiswa dan pemuda yang bakal menggelar aksi unjuk rasa di antaranya HMI Komisariat Universitas Bosowa, HMI Cagora, hingga HMI Badko Sulsel.

Berikut tuntutan mahasiswa dan pemuda yang bakal menggelar unjuk rasa:

  1. Reformasi Jilid II
  2. Tolak Kenaikan BBM
  3. Evaluasi Total Program MBG
  4. Evaluasi total Pemerintahan Prabowo-Gibran

Untuk diketahui, unjuk rasa pada Senin ini akan berlangsung di Flyover, Jalan AP Pettarani, hingga Jalan Sultan Alauddin.

Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP) Badan Koordinasi (Badko) HMI Sulsel, Muh Rafly Tanda, yang dikonfirmasi membenarkan rencana aksinya.

“Iye jadi, kurang lebih 100 orang massa aksi,” ucap Rafly, Senin siang.

Mengenai tuntutan yang disuarakan, Rafly menegaskan bahwa mereka masih menggaungkan isu reformasi jilid II.

Sebelumnya, tepat sepekan lalu aksi unjuk rasa bertajuk ‘Reformasi Jilid II’ juga telah digelar di bawah Flyover Jalan AP Pettarani, Kecamatan Panakkukang, Makassar.

Presiden Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM), Aqil Abdan Syakuran mengatakan, sejumlah kebijakan pemerintah saat ini menimbulkan banyak pertanyaan dan dinilai belum mampu menjawab persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat.

Aqil bahkan menegaskan bahwa pola pemerintahan yang berjalan saat ini memiliki kemiripan dengan era Orde Baru.

Pemerintahan Saat Ini Mirip Era Soeharto

Salah satu persoalan yang terlihat adalah tidak optimalnya peran para pembantu presiden dalam proses pengambilan keputusan.

Ia menekankan berbagai masukan yang semestinya menjadi pertimbangan justru tidak terlihat dalam sejumlah pernyataan maupun kebijakan pemerintah.

“Kami melihat pemerintahan hari ini, itu mirip-mirip dengan bapak Soeharto, kenapa demikian, karena kami melihat staf khusus dari presiden ini tidak didengar oleh bapak Presiden,” ujar Aqil di lokasi.

Aqil juga menyinggung sejumlah pernyataan Presiden Prabowo yang menurutnya memunculkan polemik di tengah masyarakat.

Ia menilai penyusunan pidato dan pernyataan resmi seharusnya telah mempertimbangkan dampak yang mungkin muncul setelah disampaikan ke publik.

“Banyak program, misalnya standar penulisan pidato saja itu tidak jelas diucapkan. Karena saya yakin penulisan pidato sudah memperhatikan kedepannya apa yang terjadi jika hal itu tidak diucapkan,” ucapnya.

Lanjut Aqil, beberapa pernyataan Presiden lebih banyak didasarkan pada keyakinan pribadi dibanding kondisi yang dirasakan masyarakat.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *