News

Soroti Gaya Kepemimpinan Tone Deaf, Prassetya Alliyus: Keberhasilan Ditentukan Bagaimana Pemimpin Menghargai Suara Rakyat



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Belakangan ini, isu mengenai etika kepemimpinan (leadership ethics) tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Khususnya setelah viralnya video Presiden Prabowo yang tampak membalas kritikan dengan kalimat gaya nyinyir.

Menanggapi fenomena pemimpin yang dinilai “menutup mata dan telinga” terhadap kritik, praktisi bisnis yang juga konten kreator Prassetya Alliyus (melalui akun Instagram @prassalli) membagikan pandangan kritis sekaligus solutif terkait cara membangun manajemen yang sehat dan inklusif.

Melalui unggahan video singkatnya yang viral, Prassetya tampak membagikan video Prabowo yang menurutnya terkesan tone deaf atau tutup telinga terhadap kritikan rakyat.

Diapun menekankan pentingnya seorang pemimpin untuk memiliki kapasitas empati dan mentalitas yang luas dalam memproses berbagai masukan, bahkan suara yang tidak nyaman didengar sekalipun.

“Mengelola sebuah organisasi atau bahkan negara memiliki kemiripan dengan mengelola bisnis, di mana seorang pemimpin sejati diikuti karena keteladanan, bukan sekadar otoritas mutlak,” kata Prassetya, dikutip fajar.co.id, pada Minggu (21/6/2026).

Berikut adalah 3 tips praktis yang dibagikan untuk mencegah hadirnya kultur kepemimpinan yang antikritik di dalam tim atau organisasi:

  1. Objektivikasi Setiap Keluhan (Ubah “Nyinyiran” Menjadi Insight)

Saat terjadi protes atau penolakan dari keputusan yang diambil oleh seorang leader, langkah terbaik bukanlah mengabaikannya. Prasetyo menyarankan untuk mendokumentasikan poin-poin tersebut secara rapi di dalam sistem manajemen yang bisa diakses oleh tim.

“Pola keluhan yang berulang itu bukan kebetulan, tapi celah operasional yang musti segera dibenerin,” tulisnya dalam keterangan takarir.

  1. Matikan Hirarki Saat Proses Problem Solving

Ide-ide brilian untuk memecahkan hambatan (bottleneck) justru sering kali datang dari mereka yang berada di garis depan (frontline). Oleh karena itu, pemimpin wajib menciptakan ruang diskusi yang memberikan rasa aman secara psikologis (psychological safety). Hal ini penting agar tim lapangan tidak takut untuk menyanggah asumsi pemimpin secara objektif demi kebaikan bersama.

  1. Lakukan Ego-Check Secara Rutin

Sebelum merilis produk, layanan baru, atau memaksakan sebuah konsep kampanye, seorang pemimpin harus merefleksikan diri. Tanyakan kepada diri sendiri dan tim: “Apakah konsep ini benar-benar menyelesaikan masalah audiens, atau ini sekadar untuk memuaskan ego kita sebagai pemimpin?”

Menjadi Pemimpin yang Relevan

Dalam videonya, Prassetya menggarisbawahi dampak buruk jika sebuah organisasi dipimpin oleh sosok yang antikritik. Ketika seorang pemimpin selalu merasa paling benar dan enggan mendengarkan, maka ekosistem di bawahnya akan menjadi pasif dan tidak sehat.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *