Selain Pembatasan Visa Delegasi Timnas Iran, Ini Sejumlah Kontroversi Piala Dunia 2026

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Piala Dunia 2026 telah berlangsung sejak 11 Juni 2026. Tetapi badai kontroversi sudah lebih dulu mendera.
Turnamen tiga negara AS-Meksiko-Kanada yang digadang paling ambisius dalam sejarah justru diawali isu rasisme, diskriminasi visa, komersialisasi gila-gilaan, sampai ancaman keamanan kartel.
Alih-alih jadi pesta pemersatu bangsa, ajang di lapangan hijau itu dinilai tereduksi oleh ego geopolitik dan kapitalisme berlebihan. Berikut 6 kontroversi utama yang mencoreng wajah sepak bola modern:
- Visa Delegasi Iran Dibantai, Team Melli Ngungsi ke Meksiko
Ketegangan AS-Iran merembet ke Piala Dunia. Otoritas AS menolak visa sejumlah staf kunci Iran, termasuk Presiden Federasi Sepak Bola Iran Mehdi Taj, tim analis, dan tim medis.
Untuk pemain, visa baru keluar di menit terakhir dengan aturan mencekik: cuma boleh di AS 1 hari, pas hari pertandingan.
Akibatnya, Iran terpaksa bermarkas di Meksiko dan bolak-balik lintas perbatasan seperti rombongan transit. Dari 15 delegasi yang ditolak, hanya 4 yang menang banding.
- Striker Irak Diinterogasi 7 Jam di Bandara Chicago
Dunia Arab meradang. Penyerang sekaligus wakil kapten Irak Aimen Hussein ditahan 7 jam oleh petugas Customs and Border Protection di Bandara O’Hare, Chicago. Ponselnya diperiksa forensik sebelum diizinkan masuk.
Nasib lebih parah menimpa fotografer resmi Timnas Irak, Talal Salah, yang ditahan 10 jam lalu dideportasi. Kejadian ini memicu protes keras atas dugaan racial profiling terhadap delegasi Timur Tengah.
- Fasilitas Latihan Jepang “Bak Lapangan Tarkam”
Timnas Jepang mengamuk ke FIFA. Lapangan latihan awal mereka di Monterrey milik klub Tigers UANL hancur-hancuran: tidak rata, berlubang, gundul, rawan cedera fatal.
Takefusa Kubo sampai mengkritik keras permukaan lapangan yang keras. Beruntung rival sekota, CF Monterrey, turun tangan meminjamkan kompleks olahraga elitnya untuk menyelamatkan muka panitia lokal.
- Jadwal “Egois” Siksa Tim Afrika dan Asia
Analisis New York Times menyorot distribusi jadwal fase grup yang berat sebelah. Tim non-unggulan dipaksa terbang jauh dengan waktu recovery mepet.
Contohnya Pantai Gading: main di Philadelphia AS, terbang ke Toronto Kanada, lalu balik lagi ke Philadelphia. Sementara tim tuan rumah dan unggulan Eropa dapat rute antarkota jauh lebih nyaman dan efisien.
- Harga Tiket Meledak Karena Dynamic Pricing
FIFA bikin suporter menjerit. Mereka menerapkan algoritma Dynamic Pricing, di mana harga tiket otomatis melonjak ribuan persen sesuai permintaan. Tiket ratusan dolar berubah jadi ribuan dolar, setara puluhan sampai ratusan juta rupiah.
Skandal ini memicu penyelidikan Jaksa Agung New York dan New Jersey atas dugaan manipulasi harga pasar. Turnamen kelas dunia tapi tidak ramah kantong pekerja.
- Meksiko Dihantui Ancaman Kartel CJNG
Masalah keamanan membayangi laga di Meksiko. Pasca tewasnya pimpinan kartel Jalisco New Generation Kartel El Mencho pada Februari 2026, gelombang kekerasan pecah menyebabkan penembakan, pembakaran mobil, blokade jalan.
Source link
