News

Peneliti Bahasa Ingatkan Bahaya Pidato Konfrontatif Presiden: Kewibawaan Pemimpin Lahir dari Kemampuannya Mendengar Suara yang Paling Pelan Sekalipun



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian global, publik menaruh harapan besar pada pidato presiden. Pidato diharapkan jadi sumber ketenangan sekaligus arah. Namun kenyataan di ruang publik belakangan justru sebaliknya. Nada tinggi, gebrak podium, dan sindiran ke pengkritik lebih sering muncul.

Peneliti Bahasa Kasri Riswadi menilai, pola komunikasi seperti itu bukan sekadar soal etika. Yang lebih mendasar adalah bagaimana kekuasaan mengelola informasi, memaknai kritik, dan menyapa rakyatnya.

Dalam kajian linguistik, gaya bicara spontan, ekspresif, dan meledak-ledak adalah bagian dari idiolek, ciri kebahasaan khas seseorang.

“Pada diri Presiden Prabowo Subianto, gaya ini terbentuk dari pengalaman panjang sebagai figur militer dan elite politik. Di satu sisi, ia menghadirkan kesan autentik dan apa adanya. Namun di sisi lain, ketika gaya personal itu bertemu lingkungan kekuasaan yang minim koreksi, ia berpotensi menjadi sumber masalah komunikasi publik,” kata Kasri kepada fajar.co.id, Minggu (14/6/2026).

Menurut Magister Humaniora (M.Hum), Universitas Hasanuddin ini, permintaan agar Presiden mengurangi porsi pidato spontan bukan tanpa alasan. Kritik publik sebenarnya menyoal fungsi bahasa negara.

Perangkap “Ruang Gema” di Pusat Kekuasaan

Kasri menyorot tantangan terbesar pemerintahan modern yakni memastikan pemimpin mendapat gambaran realitas yang utuh. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar risiko menerima informasi yang sudah diseleksi, disederhanakan, bahkan didistorsi.

“Di sekitar pusat kekuasaan selalu ada kecenderungan menghadirkan informasi yang menyenangkan telinga pemimpin. Kritik diterjemahkan sebagai serangan, ketidakpuasan publik dibaca sebagai ancaman politik. Akibatnya, pemimpin terjebak dalam ruang gema yang terus mengonfirmasi pandangannya sendiri,” jelasnya.

Dia mengutip Norman Fairclough dalam bukunya Analisis Wacana Kritis. Fairclough mengingatkan, ucapan pemimpin tidak pernah lahir dari ruang hampa. Cara berbicara dipengaruhi lingkungan sosial dan informasi yang mengelilinginya.

“Jika presiden terus menerima narasi bahwa pemerintah sedang ‘diserang’ atau ‘dijegal’, respons yang muncul cenderung defensif dan konfrontatif,” ujar Kasri.

Di sinilah terjadi patahan konteks. Presiden merasa sedang membela kebijakan. Sementara masyarakat yang bergulat dengan harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, dan daya beli justru menangkap pidato itu sebagai kemarahan yang tidak relevan.

“Bahasa yang seharusnya jadi jembatan berubah menjadi tembok pemisah,” tegasnya.

Bahaya “Kelelahan Semantik”

Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulsel ini memperingatkan dampak jangka panjang komunikasi konfrontatif yang juga berarti kelelahan semantik.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *