News

KontraS Sorot Fenomena Nikah Siri Mahasiswi dan ‘Sugar Daddy’, Pengaruh Gaya Hidup atau Tuntutan Ekonomi?



PORTALUTAMA.NET, BANDA ACEH — Jagat media sosial tengah dihebohkan oleh laporan mengenai maraknya fenomena nikah siri dan hubungan tanpa ikatan resmi antara sebagian mahasiswi di Banda Aceh dengan pria matang yang lebih mapan secara finansial (sugar daddy).

Relasi yang berjalan secara tertutup ini memicu diskusi hangat mengenai batasan antara tuntutan biaya hidup dan pemenuhan gaya hidup (lifestyle).

Berdasarkan laporan investigatif dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Aceh yang diunggah ulang akun Instagram makassarupdates, pola relasi ini berkembang secara sembunyi-sembunyi di lingkungan tertentu sehingga cukup sulit terdeteksi secara kasat mata.

Legitimasi Lewat Nikah Siri

Dalam praktiknya, pernikahan siri kerap dipilih oleh kedua belah pihak sebagai jalan pintas untuk melegitimasi hubungan mereka secara agama, sekaligus menghindari sanksi sosial atau penggerebekan oleh masyarakat sekitar.

Laporan tersebut menyoroti bahwa faktor pemicu utama dari fenomena ini bersifat multidimensi, mulai dari keterbatasan ekonomi untuk membayar biaya kuliah dan biaya hidup sehari-hari, hingga kuatnya pengaruh media sosial yang mengampanyekan tren hidup mewah (hedonisme).

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran dari berbagai pihak mengenai jaminan perlindungan hukum bagi hak-hak perempuan serta dampak sosial jangka panjangnya.

Reaksi Netizen: Bukan Tren Baru, Tapi Rahasia Umum

Unggahan yang menarik perhatian lebih dari 30 ribu pengguna ini langsung dibanjiri ribuan komentar netizen. Banyak di antaranya menilai bahwa fenomena ini bukanlah hal baru yang mendadak muncul, melainkan realitas sosial yang sudah lama terjadi di berbagai kampus.

Banyak netizen yang menyanggah penggunaan kata “tren baru” dalam narasi tersebut. Akun @dedemell02 berkomentar, “Bukan tren, tapi udah dari dulu kali ahhh. Kemana ajaa lo min🫠,” yang senada dengan komentar @hrrfinbm, “Ko trenn, udah ada sejak lama wkwkwkkw.” Ada pula @1maan yang menegaskan, “SUDAH RAHASIA UMUM🙌.”

Netizen juga menyoroti perbedaan tipis antara tuntutan ekonomi riil dan keinginan untuk hidup mewah. Akun @akhmat_expreso18 mempertanyakan, “Biaya hidup apa gaya hidup,” sementara @zlfreviii menambahkan sudut pandangnya, “Biasanya yang kayak gitu dari keluarga miskin terus hidup nya mau hedon.”

Di sisi lain, ada netizen yang melihat hal ini sebagai dampak dari mahalnya biaya pendidikan tinggi. Akun @dwsaputraa.a menyindir situasi ini dengan menulis, “Bayar UKT macet?, om” solusi nya.”

Diskusi sempat memanas ketika akun @ca4_yt menyayangkan pilihan tersebut, “Mengapa harus cari yang berduit kenapa kita gak yang berduit aja, biar harga diri tidak gampang dibayar…” yang kemudian ditanggapi secara realistis oleh @junowijaya, “Andai kesuksesan itu bisa dirasakan semua orang di muka bumi dan semudah omongan mu, tentu saja mereka tidak akan mau seperti itu.”



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *