Saham BBCA Alami Tren Penurunan Terpanjang dalam Sejarah, Investor Mulai Cemas

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Emiten perbankan raksasa PT Bank Central Asia Tbk (IDX: BBCA), yang selama ini dikenal sebagai saham paling aman dan menjadi tulang punggung (gandulan) para investor di Pasar Saham Indonesia, tengah menghadapi sorotan tajam.
Pasalnya, saham yang biasanya konsisten bergerak ke “kanan atas” ini terpantau mengalami tren penurunan (downtrend) yang cukup panjang sejak menyentuh puncaknya di level Rp10.650 per lembar saham pada 27 September 2024.
Berdasarkan data pasar per 4 Juni 2026, harga saham BBCA berada di posisi Rp5.425, sebuah koreksi yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan performa historisnya yang dikenal tangguh, bahkan saat melewati krisis besar seperti tahun 2008 dan pandemi Covid-19 2020.
Fenomena ini pun memicu perbincangan hangat sekaligus kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan komunitas investasi.
Andalan Institusi Besar yang Tengah Diuji
Selama bertahun-tahun, BBCA dianggap menyerupai aset aman seperti emas oleh para investor lokal karena nilainya yang cenderung terus naik dalam jangka panjang.
Ketangguhan fundamentalnya membuat BBCA menjadi saham wajib bagi berbagai perusahaan investasi besar, termasuk perusahaan asuransi kesehatan yang memutar dana nasabah mereka di emiten ini.
Tren downtrend yang hampir menyentuh periode panjang ini membuat banyak pihak di komunitas saham “geleng-geleng kepala”, mengingat posisinya sebagai penggerak utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Suara Netizen dan Sentimen Pasar
Penurunan performa saham Blue Chip ini menuai beragam reaksi dari para netizen dan ritel di media sosial. Sebagian mengaitkannya dengan kondisi makroekonomi, sementara yang lain melihatnya sebagai peluang investasi.
Beberapa netizen menilai bahwa pelemahan ini tidak lepas dari kondisi ekonomi global dan domestik. “Rupiah melemah…” tulis akun Rendra Walker, menyoroti salah satu tekanan makro yang sering membuat investor asing melakukan aksi jual (net sell) di saham perbankan besar.
Di sisi lain, penurunan harga ini justru dianggap sebagai kesempatan emas bagi sebagian investor domestik untuk melakukan akumulasi beli di harga murah. “Saatnya serok sedalam-dalamnya sama investor lokal,” komentar Nandi Nursandi. Meski begitu, komentar tersebut juga langsung memicu diskusi realistis di kalangan ritel mengenai ketersediaan likuiditas mereka, dengan selingan gurauan “Dari mana duitnya?”.
Akun Galax Sy menambahkan sudut pandang mengenai pergerakan dana luar negeri, “Patokan investor asing ya dari IMF…” mengacu pada bagaimana institusi global menilai kesehatan ekonomi suatu negara sebelum menaruh dana di saham-saham heavyweight seperti BBCA.
Source link
