News

Banjir Malangke Tak Bisa Diselesaikan dengan Tanggul Semata, Perlu Perhatian Serius pada Bagian Hulu DAS



Oleh: Feri
(Pemuda Luwu Utara & Alumni Prodi Ilmu Tanah Unhas)

Banjir yang terus berulang di wilayah hilir Kabupaten Luwu Utara, khususnya di Kecamatan Malangke dan Malangke Barat, kembali menunjukkan bahwa penanganan bencana di daerah ini belum menyentuh akar persoalan.

Setiap musim hujan tiba, masyarakat harus kembali menghadapi genangan, rusaknya lahan pertanian, lumpuhnya aktivitas ekonomi, hingga ancaman kesehatan.

Ironisnya, solusi yang sering muncul masih fokus pada pembangunan tanggul dan normalisasi sungai. Padahal, masalah utama sesungguhnya berada jauh di bagian hulu Daerah Aliran Sungai (DAS).

Dalam enam tahun terakhir, banjir besar terus terjadi di Luwu Utara. Tahun 2020 menjadi salah satu bencana paling memilukan ketika banjir bandang menerjang Masamba dan wilayah sekitarnya. Peristiwa tersebut menelan korban jiwa, menghancurkan rumah warga, fasilitas umum, dan meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat.

Setelah itu, banjir tidak pernah benar-benar berhenti. Tahun 2021, 2022, 2023 hingga 2025, wilayah Malangke dan daerah pesisir DAS Rongkong, DAS Masamba dan DAS Baliase kembali mengalami banjir musiman dengan intensitas yang cukup tinggi. Sawah dan perkebunan terendam, akses jalan terputus, dan masyarakat terus hidup dalam ancaman yang sama.

Pertanyaannya, apakah solusi banjir hanya sebatas membangun tanggul dan normalisasi sungai?

Sebagai alumni Ilmu Tanah Universitas Hasanuddin, saya memandang bahwa pendekatan tersebut terlalu sempit dan cenderung reaktif. Tanggul dan normalisasi sungai memang penting sebagai langkah teknis jangka pendek. Namun, keduanya tidak akan pernah menyelesaikan masalah jika kerusakan di bagian hulu DAS terus dibiarkan.

DAS merupakan satu kesatuan ekosistem dari hulu hingga hilir. Apa yang terjadi di hulu akan berdampak langsung pada daerah hilir. Ketika kawasan hulu mengalami kerusakan akibat pembukaan lahan yang tidak terkendali, maka kemampuan tanah menyerap air akan menurun drastis.

Air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah justru berubah menjadi limpasan permukaan dan mengalir cepat menuju sungai. Akibatnya, debit sungai meningkat secara tiba-tiba dan memicu banjir di wilayah hilir seperti Malangke.

Fenomena ini sangat terlihat jelas ketika kita berada di Kota Masamba. Gunung-gunung yang dahulu hijau kini tampak semakin gundul. Perubahan tutupan lahan terlihat jelas. Kawasan yang semestinya menjadi daerah resapan air diduga telah banyak mengalami alih fungsi menjadi lahan perkebunan maupun aktivitas lainnya. Kondisi tersebut tidak bisa dianggap biasa. Sebab, hutan di wilayah hulu memiliki fungsi ekologis yang sangat vital sebagai pengatur tata air.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *