News

Curhat Warga Penyintas Kanker di Makassar, 10 Meter dari Rumahnya akan Dibangun PLTSa: Kami Hanya Ingin Didengar



PORTALUTAMA.NET, MAKASSAR — Seorang warga Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, mencurahkan perasaannya, kukuh menolak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Namanya N (inisial), seorang perempuan penyintas kanker.

Rumah N dengan rencana titik pembangunan PLTSa di Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, hanya sekitar 10 meter.

Curahan hati N disampaikan dalam konferensi pers yang digelar WALHI Sulawesi Selatan bersama GERAM PLTSa, Nexus3 Foundation, dan WALHI Nasional. Berlangsung melalui Zoom pada Kamis (21/5/2026) kemarin.

N menceritakan, dirinya menjalani kemoterapi sepanjang tahun 2024. Ia mengaku kondisi tubuhnya saat itu sering naik turun.

Ada hari-hari ketika tubuhnya terasa cukup kuat, tetapi tidak jarang ia bahkan kesulitan hanya untuk bangun dari tempat tidur.

“Kadang saya kuat, kadang cuma bangun dari tempat tidur saja rasanya berat. Apalagi waktu itu ada cairan di paru-paru, jadi napas sering sesak dan badan cepat sekali capek,” ungkapnya.

Di tengah kondisi kesehatan yang belum sepenuhnya pulih, rencana pembangunan PLTSa di dekat rumahnya mencuat. Hal itu membuat kekhawatirannya semakin besar.

Bagi N, proyek tersebut bukan hanya soal pembangunan atau investasi, tetapi sesuatu yang akan berdampak langsung pada ruang hidup keluarganya.

“Buat sebagian orang mungkin ini cuma proyek. Tapi buat saya, ini sangat dekat dengan tempat saya beristirahat, tempat saya mencoba pulih, dan tempat keluarga saya hidup setiap hari,” katanya.

Sebagai penyintas kanker, N mengaku dirinya menjadi lebih peka terhadap isu kesehatan dan lingkungan. Ia tidak ingin anak-anaknya, keluarganya, maupun warga sekitar harus menghadapi risiko kesehatan yang sama di kemudian hari.

Menurutnya, kekhawatiran warga adalah hal yang sangat wajar. Terutama bagi masyarakat yang tinggal paling dekat dengan lokasi pembangunan.

“Kalau pernah sakit, apalagi sampai menjalani pengobatan seperti kemoterapi, kita jadi sadar betapa pentingnya udara yang bersih, lingkungan yang aman, dan rasa tenang di rumah sendiri,” ujarnya.

N berharap, pemerintah dan seluruh pihak terkait benar-benar mendengarkan suara warga yang akan merasakan dampak langsung dari proyek tersebut.

Ia menilai masyarakat sekitar tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan. Selain hak untuk hidup sehat dan aman di lingkungan mereka sendiri.

“Kami hanya ingin didengar. Karena yang akan hidup berdampingan dengan dampaknya itu kami, masyarakat yang tinggal di sini,” katanya.

Bagaimanapun kata N, dirinya bersama warga lainnya tetap menolak pembangunan PLTSa di wilayah mereka.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *