Rupiah Hari Ini Ditutup 17.475 Per USD, Diprediksi Melemah ke Rp17.650 Pekan Depan

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Nilai tukar rupiah hari ini, Rabu (13/5/2026) ditutup di level Rp17.475 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.528. Diprediksi akan melemah pekan depan.
“Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.470- Rp17.530. Range untuk sepekan direntang Rp17.420 hingga Rp17.650,” kata Pengamat Ekonomi, Mata uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi melalui keterangan tertulis.
Direktur PT Traze Andalan Futures itu mengatakan, sentimen global masih menjadi faktor utama tekanan pasar. Kondisi geopolitik dinilai membuat pelaku pasar tetap berhati-hati.
Ia menyebut pasar masih dibayangi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Menurutnya, sentimen pasar tetap rapuh setelah Trump mengatakan negosiasi dengan Iran berada dalam kondisi “kritis”.
“Komentar tersebut meredam optimisme atas gencatan senjata jangka pendek dan menjaga ketidakpastian geopolitik tetap tinggi,” ujar Ibrahim.
Konflik berkepanjangan disebut mengganggu pengiriman minyak dunia melalui Selat Hormuz.
Ia menilai gangguan distribusi minyak memicu kekhawatiran inflasi global. Kenaikan harga energi juga dinilai memperumit arah kebijakan suku bunga.
Selain itu, investor kini menanti pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei. Pertemuan itu diperkirakan membahas perang dagang hingga konflik Iran.
Ibrahim mengatakan perang Iran mulai berdampak terhadap ekonomi Amerika Serikat. Harga minyak yang tinggi membuat harga bahan bakar ikut naik.
“Terbukti dengan harga konsumen AS naik 0,6% pada bulan April, sementara CPI tahunan meningkat menjadi 3,8%, tertinggi sejak pertengahan 2023,” katanya.
Inflasi inti AS juga disebut berada di atas ekspektasi pasar. Pasar kini menantikan data indeks harga produsen AS yang dirilis Rabu nanti. Data tersebut akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti posisi utang pemerintah yang mendekati Rp10 ribu triliun. Meski demikian, pemerintah mengklaim kondisi fiskal masih aman.
Ia menyebut posisi utang pemerintah hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp9.920,42 triliun. Jumlah tersebut naik dibanding posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp9.637,90 triliun.
“Dilihat dari rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih di posisi 40,75% atau di bawah batas aman Undang-Undang Keuangan Negara yang sebesar 60% PDB,” ujar Ibrahim.
Pemerintah juga menyebut rasio utang Indonesia masih lebih rendah dibanding sejumlah negara lain.
Menurut Ibrahim, mayoritas utang pemerintah masih berasal dari Surat Berharga Negara atau SBN. Nilainya mencapai Rp8.652,89 triliun atau sekitar 87,22 persen dari total utang pemerintah.
Source link
