News

Dari Buku Tak Terbeli hingga Sepatu Mematikan: Tragisnya Wajah Kemiskinan di Negeri Kaya



Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Kemiskinan tidak selalu hadir sebagai angka statistik.
Ia kadang menjelma menjadi sepasang sepatu sempit yang dipakai bertahun-tahun oleh seorang anak sekolah.
Ia kadang berubah menjadi buku pelajaran yang tak mampu dibeli hingga membuat seorang anak kehilangan harapan hidupnya sendiri.
Kemiskinan perlahan menekan tubuh, mematahkan mimpi, dan mengikis martabat manusia sedikit demi sedikit.

Di Nusa Tenggara Timur, tragedi memilukan terjadi pada 29 Januari 2026. Seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun berinisial YBR, siswa kelas 4 SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, memilih mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku tulis dan pulpen yang nilainya bahkan tidak sampai Rp10 ribu.
Sebuah kenyataan yang memilukan sekaligus memalukan.

Korban diduga merasa putus asa setelah permintaannya tidak mampu dipenuhi sang ibu yang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Sebelum ditemukan gantung diri di pohon cengkih, bocah kecil itu meninggalkan surat perpisahan untuk ibunya. Memohon agar kepergiannya direlakan. Surat sederhana yang mungkin lebih menyayat daripada pidato politik mana pun.

Di balik tragedi itu tersimpan wajah buram sistem sosial kita. Keluarga korban diketahui tidak terdaftar sebagai penerima bantuan sosial karena persoalan administrasi kependudukan. Ia tinggal bersama neneknya yang sudah lanjut usia, sementara ibunya bekerja serabutan menanggung lima anak. Di sekolah, ia disebut sering menahan lapar dan terbebani kebutuhan pendidikan lainnya.

Maka sesungguhnya, anak itu bukan hanya kalah oleh kemiskinan.
Ia kalah oleh sistem yang gagal melihat penderitaan sebelum berubah menjadi kematian.
Lalu dari Samarinda, publik kembali dikejutkan kisah pilu Mandala Rizky Syahputra, siswa kelas 2 SMK berusia 16 tahun yang meninggal pada Jumat, 24 April 2026. Kematian Mandala membuka kembali wajah kelam dunia pendidikan ketika kemiskinan memaksa seorang anak bertahan dalam keterbatasan yang ekstrem.

Di rumah kontrakan kayu sederhana di Jalan Tarmidi, Kelurahan Sungai Pinang Luar, tersimpan kisah sunyi perjuangan seorang anak yang terus memaksakan diri sekolah dan bekerja meski tubuhnya menanggung sakit. Ia memakai sepatu ukuran 40 untuk kaki berukuran 44. Bertahun-tahun.

Bayangkan rasa sesak itu.
Bukan hanya pada kaki, tetapi juga pada hidupnya.
Kakinya membengkak, memerah, dan terus dipaksa berjalan demi pendidikan dan harapan masa depan. Dari sesuatu yang tampak sepele—sepatu sekolah—tragedi besar itu akhirnya tumbuh menjadi komplikasi kesehatan yang merenggut nyawanya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *