News

Ferdinand Hutahaean: Lawan Klaim Pertumbuhan Ekonomi Pakai Data, Bukan Narasi Krisis



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Politikus PDIP Ferdinand Hutahaean ikut menanggapi polemik klaim pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61% pada triwulan I-2026.

Menurutnya, perdebatan soal data itu sah terjadi. Namun kritik ke pemerintah harus dibarengi data pembanding, bukan sekadar opini atau asumsi.

Ferdinand mengakui angka 5,61% memang memicu pro-kontra luas.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61 persen yang telah dirilis oleh pemerintah saat ini banyak menjadi pertentangan opini di tengah masyarakat kita,” ujar Ferdinand dikutip fajar.co.id, Jumat, 8 Mei 2026.

Ia menyebut isu ini ramai dibahas berbagai kalangan, dari analis, ekonom, pengamat, warganet, hingga buzzer.

“Terutama di kalangan analis, ekonom, dan pengamat beserta para netizen dan juga tidak ketinggalan buzzer-buzzer,” ucapnya.

“Benarkah BPS Pabrikasi Data?”

Ferdinand mengatakan banyak pihak menuding data 5,61% tidak akurat, bahkan hasil rekayasa.

“Banyak yang mengatakan bahwa data pertumbuhan 5,61 persen itu tidak akurat dan tidak faktual. Begitulah banyak pendapat yang beredar,” ungkapnya.

Meski begitu, ada juga yang meyakini angka itu sesuai fakta. “Tetapi banyak juga yang mengatakan bahwa data itu memang fakta,” tukasnya.

Ia lantas mempertanyakan tudingan bahwa BPS memanipulasi data demi citra pemerintah.

“Benarkah tudingan dari berbagai pihak yang menyatakan bahwa data BPS tersebut adalah pabrikasi data?” kata Ferdinand.

“Benarkah BPS melakukan rekayasa pabrikasi data untuk mendukung kinerja pemerintah? Ini menjadi pertanyaan bagi banyak pihak,” tambahnya.

Kritik Harus Pakai Data Pembanding, Bukan Asumsi

Ferdinand menilai tudingan itu lemah karena tidak disertai data tandingan yang kuat. Banyak kritik, katanya, hanya berbasis asumsi tanpa angka atau riset pembanding.

“Tetapi sayangnya pertanyaan itu tidak ditopang, tidak didukung dengan data-data baru, data-data pembanding terkait dengan data yang diberikan,” terangnya.

“Sehingga data tidak dilawan dengan data, tetapi data dilawan dengan asumsi dan pemikiran semata. Inilah yang membuat kita bahwa terjadi perang opini,” sambungnya.

Ia menegaskan pengamat ekonomi seharusnya hadirkan data alternatif jika ingin membantah angka pemerintah.

“Kafe-Restoran Rame, Mal Penuh” vs Pasar Tradisional Tertekan

Ferdinand juga menyorot fakta keseharian. Menurutnya, aktivitas ekonomi masih terlihat berjalan. Ia mencontohkan ramainya tempat nongkrong, kafe, restoran, hingga mal.

“Tetapi kalau kita mau melihat fakta keseharian, coba diperhatikan kondisi tempat-tempat nongkrong, kafe, restoran, mal, apakah pernah sepi? Saya tidak pernah melihat tempat-tempat itu sepi. Selalu rame,” bebernya.

Ia mengakui pasar tradisional memang terkendala akibat persaingan dengan pasar online. “Pasar memang mengalami kendala pasar tradisional akibat dari pasar online,” jelasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *