Dari Kiblat Ke Kubu: Krisis Nalar Kemanusiaan di Tengah Konflik Iran–Israel

Oleh: Najamuddin Sosiolog Agama, Peneliti sosial keagamaan dan Globalisasi (Universitas Negeri Makassar)
PORTALUTAMA.NET – Pagi tadi, grup WhatsApp keluarga ribut. Ada yang mengirim video rudal Iran menghujam Tel Aviv: “Alhamdulillah, akhirnya dibalas.” Ada yang membalas dengan video Gaza luluh lantak dibom Israel: “Lihat, Zionis biadab.” Lalu muncul satu pesan yang membuat saya terdiam: “Prof, kita bela siapa? Kan Iran Syiah.”
Setelah rudal Iran menembus Iron Dome Israel, dan setelah jet Israel meluluhlantakkan Rafah, nalar publik kita ternyata tidak sedang menganalisis hukum perang. Kita sedang memilih kubu. Membela Iran bukan karena serangannya presisi ke target militer, tetapi karena “sesama Syiah”. Mengutuk Israel bukan karena membunuh 15.000 anak Gaza, tetapi karena “musuh Islam”. Di meja yang sama, Amerika disebut “pelindung Zionis” atau “penjaga demokrasi”, tergantung mazhab yang bicara. Kebenaran tak lagi diukur dengan Konvensi Jenewa; ia diukur dengan kitab fikih.
Baik rudal Iran yang jatuh di permukiman Tel Aviv maupun bom Israel yang meratakan kamp pengungsi di Rafah, keduanya sama-sama melanggar prinsip dasar kemanusiaan: warga sipil bukan target. Namun di layar ponsel kita, yang satu disebut “balasan setimpal”, yang lain “kejahatan perang”, semata-mata karena pelakunya memakai sorban atau tidak.
Sejak eskalasi Iran–Israel–Amerika memanas pada 2024–2026, ruang media kita banjir “analisis agama”. Padahal ini bukan analisis, melainkan klaim. Seorang ustaz di TikTok berkata, “Wajib bela Iran, mereka satu-satunya yang berani melawan Israel.” Ustaz lain di YouTube membalas, “Jangan tertipu, Iran dan Amerika itu sandiwara. Syiah dan Yahudi bersaudara.” Keduanya tidak berbicara tentang 15.000 anak Gaza yang tewas. Mereka berbicara soal ushul dan furu’.
Inilah yang disebut Émile Durkheim sebagai breakdown of collective conscience. Ketika solidaritas mekanik sebagai bangsa retak, orang kembali ke solidaritas kelompok terkecil yang paling primordial: mazhab. Media sosial mempercepatnya. Algoritma tidak menyukai nuansa; ia menyukai kubu. Maka narasi “Sunni vs Syiah” lebih laku daripada “penjajahan vs kemanusiaan”. Agama turun kasta: dari kompas moral menjadi seragam klub bola. Kita mendukung tim kita, apa pun skor kemanusiaannya.
Ada tiga mesin yang memproduksi tribalisme mazhab ini.
Pertama, komodifikasi identitas. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai arena pertarungan modal. Di media, “modal simbolik” sebagai “ustaz paling lurus” sangat mahal. Cara tercepat menumpuknya: mengambil posisi paling keras terhadap mazhab lain. Menyebut “Syiah sesat” atau “Wahabi antek” menghasilkan engagement tinggi. Kebenaran teologis menjadi sekunder; trafik menjadi primer. Agama jadi konten, mazhab jadi branding.
Source link
