Muhammadiyah Sulsel Tingkatkan Reputasi Digital: Bukan Sekadar Viral, tapi Dakwah yang Bermartabat

Fajar.co.id, Makassar — Ruang digital bukan lagi sekadar etalase informasi. Bagi Muhammadiyah Sulawesi Selatan, ia telah menjadi medan pertempuran baru: tempat reputasi diperjuangkan, citra diuji, dan kepercayaan publik dirawat dengan sungguh-sungguh.
Kesadaran itu menjadi inti Pelatihan Manajemen Reputasi Digital yang digelar Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel di Aula Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel, Jumat hingga Ahad (1–3 Mei 2026).
Mengusung tema “Merawat Reputasi, Menumbuhkan Islam Berkemajuan”, pelatihan ini diikuti sekitar 71 peserta dari 22 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Sulsel, MPI PDM, serta unsur perguruan tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah.
Eksekusi, Bukan Sekadar Teori
Ketua Panitia, Umar Sadik, menegaskan bahwa pelatihan ini harus menghasilkan aksi nyata. “Satu kata kuncinya adalah eksekusi. Setelah pelatihan ini harus ada aksi,” tegasnya.
Umar juga mendorong setiap PDM untuk memberikan perhatian serius terhadap pengelola informasi. Menurut dia, pengelolaan konten digital tidak boleh lagi mengandalkan kesukarelaan semata. Organisasi harus memberikan dukungan struktural agar kerja informasi berjalan konsisten dan profesional.
Ketua MPI PWM Sulsel, Dr Hadisaputra, menyebut pelatihan ini sebagai forum konsolidasi strategis, bukan sekadar kelas teknis membuat konten atau mengelola media sosial.
“Kita tidak boleh bosan mengingatkan bahwa dunia sudah berubah. Muhammadiyah harus beradaptasi,” katanya.
Hadisaputra menekankan bahwa reputasi digital Muhammadiyah tidak boleh dibangun dengan logika “asal viral”. Spirit utamanya harus tetap dakwah.
“Reputasi digital bukan semangatnya trending topic. Spiritnya adalah dakwah,” ujarnya.
Dia juga mengingatkan adanya paradoks yang patut diwaspadai: Muhammadiyah tampak besar di ruang digital, tetapi bisa lemah di akar rumput. Karena itu, reputasi daring harus ditopang oleh aktivitas nyata di cabang, ranting, masjid, sekolah, dan amal usaha.
“Jangan sampai reputasi digital kita besar, tetapi ketika disentuh di lapangan, tidak ada aktivitas yang terasa,” tegasnya.
Menurut Hadisaputra, membangun reputasi membutuhkan tiga pilar: nilai sebagai fondasi, tata kelola yang baik agar kerja tidak sporadis, serta artefak berupa identitas visual yang seragam (logo, warna, desain, kop surat, dan papan nama).
Dia juga menyoroti peran penting sekretaris PDM sebagai “orkestrator” reputasi di tingkat daerah, sementara MPI dan tim digital berfungsi sebagai pasukan teknis yang menggerakkan informasi secara cepat dan terarah.
Source link
