Polemik Chromebook dan ANBK, Ini Catatan Kritis dari P2G

PORTALUTAMA.NET — Polemik pengadaan Chromebook untuk dunia pendidikan kembali mencuat. Kali ini, kritik keras datang dari Kabid Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri, yang mempertanyakan dasar kebijakan hingga dugaan perubahan arah kajian pemerintah.
Dalam unggahan media sosialnya, Iman menilai kebijakan tersebut menyimpan kejanggalan sejak awal proses perencanaan.
Iman mengungkap bahwa pada kajian awal tahun 2020, hasilnya jelas chromebook tidak direkomendasikan.
“Kajian awal 2020 membuktikan bahwa 46% sekolah tidak punya akses internet. Survei ini juga menunjukan hampir tidak ada sekolah yang menggunakan Chromebook,” kata Iman, Minggu, (26/4/2026).
Namun, menurutnya, situasi berubah drastis ketika muncul kajian baru.
“Kemudian tiba-tiba, kajian ini dirubah. Chromebook yang awalnya tidak direkomendasikan, jadi direkomendasikan,” tuturnya.
Perubahan ini disebut terjadi saat hadirnya sosok IBAM dalam tim. Iman menyoroti keberadaan IBAM sebagai bagian dari Tim Staf Khusus Menteri.
“Pada kajian kedua inilah ada IBAM sebagai Tim SKM. Dengan memegang dua dokumen ini saja, tentu mudah bagi kejaksaan untuk melihat peran sentral IBAM,” ujarnya.
Ia bahkan mempertanyakan konsistensi pernyataan IBAM.
“Agak aneh kalau IBAM mengaku tidak merekomendasikan Chromebook. Kalau tidak, untuk apa kajiannya diubah?” tambah Iman.
Iman juga mengaitkan penggunaan Chromebook dengan kebijakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) yang digagas pada masa kepemimpinan Nadiem Makarim.
Menurutnya, kebijakan tersebut justru dibuat untuk “memberi fungsi” pada Chromebook.
Source link
