Tiyo Ardianto Bedah Program MBG di Makassar: Ada Tujuan Lain yang Tidak Diucapkan kepada Kita

PORTALUTAMA.NET, MAKASSAR — Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menyebut bahwa publik mesti jeli membaca arah program yang disajikan pemerintahan Prabowo Subianto.
Hal itu ditegaskan Tiyo saat hadir dalam dialog kebangsaan bertema, ‘Menuju Indonesia Emas 2045: Dinamika Hukum dan Politik dalam Sistem Demokrasi di Indonesia’, di Jalan Tamalate, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Senin (15/6/2026).
Untuk diketahui, dialog kebangsaan yang juga menghadirkan Pengamat Asratillah itu digagas oleh mahasiswa Pengurus BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unismuh Makassar.
Pada kesempatan itu, Tiyo yang datang dari pulau Jawa mengajak publik untuk tidak hanya melihat program dari sisi pelaksanaannya, tetapi juga menelaah kesesuaian antara tujuan yang disampaikan pemerintah dengan realitas di lapangan.
Menurutnya, ukuran benar atau tidaknya sebuah kebijakan dapat dilihat dari apakah program tersebut berjalan sejalan dengan tujuan awal yang diklaim pemerintah.
Dalam paparannya, Tiyo menggunakan analogi sederhana untuk menjelaskan pandangannya mengenai cara menilai sebuah kebijakan.
“Mengetahui benar atau tidak itu adalah dengan sesuatu itu lurus atau tidak dengan tujuannya,” ujar Tiyo.
Ia kemudian memberikan ilustrasi yang memancing respons peserta dialog.
“Orang muslim kalau makan babi itu benar atau salah?” tanyanya.
“Salah,” jawab peserta dialog. Namun Tiyo melanjutkan dengan perspektif berbeda.
“Kalau tujuannya masuk ke neraka, benar. Kalau orang muslim makan babi dengan tujuan masuk neraka, itu benar,” katanya.
Dikatakan Tiyo, sebuah tindakan harus dilihat berdasarkan tujuan yang hendak dicapai.
“Jadi kebenaran ditentukan oleh tujuan, saya pengen kita ingat kembali tujuan dari MBG. Tujuannya apa sih sebenarnya yang sejak awal disampaikan pak Presiden saat masa kampanye,” lanjutnya.
Pertanyakan Tujuan Awal Program MBG
Tiyo mengingatkan bahwa salah satu alasan utama program MBG diperkenalkan kepada publik adalah untuk mengatasi persoalan stunting di Indonesia.
Karena itu, ia mengajak masyarakat menggunakan indikator stunting sebagai alat ukur keberhasilan program tersebut.
“Disampaikan MBG itu untuk mengentaskan problem stunting,” Tiyo menuturkan.
“Mari kita jadikan itu ukuran untuk menentukan apakah MBG itu benar atau tidak. Mari pakai data stunting. Berapa angka stunting di Indonesia? 19 persen,” tambahnya.
Lebih jauh, Tiyo mengutip teori medis yang menyebut bahwa penanganan stunting paling efektif dilakukan pada fase awal kehidupan anak.
Source link
