Pertamina Bangun Kilang Bioetanol di Banyuwangi sebagai Strategi Ketahanan Energi Nasional
PT Pertamina (Persero) sedang membangun kilang bioetanol di kawasan pabrik gula Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur. Dengan memanfaatkan tebu, pabrik tersebut dirancang untuk menghasilkan 30 ribu kiloliter bioetanol per tahun, dan ditargetkan beroperasi pada 2028.
Vice President Sustainability Strategy, Policy, & Partnership Pertamina Jelita Irmawati mengatakan, pembuatan kilang bioetanol merupakan strategi Pertamina untuk menjaga ketahanan energi nasional, dan melakukan dekarbonisasi menuju emisi nol bersih (NZE).
“Jadi pelaksanaan transisi energi dilaksanakan sejalan dengan menjaga energi nasional, dan juga melaksanakan dekarbonisasi,” kata Jelita saat menjadi pembicara dalam acara Executive Business Forum TV Muhammadiyah di Jakarta, Rabu (28/10).
Dalam menjalankan bisnis energi rendah karbon, kata Jelita, pihaknya menerapkan strategi pertumbuhan ganda yakni dengan tetap memperkuat bisnis inti minyak dan gas, serta mengembangkan portofolio bisnis energi rendah karbon.
Tujuannya untuk mendukung target emisi nol bersih Indonesia pada 2060. Adapun anak usaha yang ditugaskan menjalankan bisnis tersebut yakni PT Pertamina New & Renewable Energy.
“Jadi untuk melaksanakan atau memastikan seluruh warga negara memperoleh energi. Dengan melaksanakan bisnis yang sudah ada, dan juga membangun bisnis rendah karbon,” ujar Jelita.
Selain itu, kata Jelita, Pertamina pun menjalankan bisnis rendah karbon lainnya seperti biodiesel (B50), dan bisnis panas bumi (geothermal). Juga mengembangkan teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS).
Selain memperkuat transisi energi dan mengembangkan bisnis energi bersih, kata Jelita, Pertamina juga menurunkan emisi karbon yang dihasilkan sebesar 2,27 juta ton setara karbon dioksida (CO2e) pada 2025. Dari total pengurangan emisi tersebut, Pertamina berkomitmen menjadi perusahaan yang mewujudkan target emisi nol bersih 2060.
“Kami berhasil mengurangi emisi, terutama emisi yang dikurangi dari efisiensi energi. Jadi yang kita lakukan adalah 67% dilakukan melalui efisiensi energi, dan kemudian dilakukan dari kontribusi pembangkit listrik hijau,” ujar Jelita.
