News

Jokowi Mulai Ditinggal Ketum Parpol? Adi Prayitno: Tak Ada yang Datang ke Solo



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pengamat politik Adi Prayitno menyoroti dinamika hubungan politik terkini antara para pemimpin partai politik dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Ia mencermati fenomena tidak adanya ketua umum partai politik yang secara terbuka datang mengunjungi Jokowi kediamannya di Solo pasca-lengser dari kursi kepresidenan pada 2024.

Adi menilai para pimpinan partai politik tersebut terkesan mulai menjaga jarak dengan Jokowi seiring berulirnya masa purnatugas sang mantan presiden.

“Per hari ini ketua umum-ketua umum partai itu memang relatif menjaga jarak memang dengan Pak Jokowi,” ujar Adi dalam tayangan kanal YouTube tvOneNews, dikutip Rabu (28/10/2026).

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) tersebut membandingkan sepinya kunjungan elite parpol ke Solo dengan era kepemimpinan Jokowi sebelumnya.

“Kan nyaris kita tidak pernah menyaksikan secara terbuka ketua umum-ketua umum partai ini kan datang ke ratapan tembok Solo misalnya kan, enggak ada itu,” lanjutnya.

Menurut Adi, pergeseran sikap para elite politik tersebut sangat kontras dibanding ketika Jokowi masih memegang kendali pemerintahan puncak. Kala itu, seluruh partai anggota koalisi pemerintahan bersikap patuh pada arah kebijakan presiden.

“Kalau dulu iya karena Pak Jokowi itu posisinya sebagai presiden. Logikanya adalah partai-partai koalisional pemerintah itu pasti akan tegak lurus kepada presidennya,” ujarnya.

Lebih jauh, Adi menilai realitas politik ini menjadi potret suram dari iklim dan budaya politik transaksional di tanah air. Menurutnya, terdapat pola berulang di mana seorang pejabat yang sudah tidak lagi memegang kekuasaan bakal ditinggalkan oleh rekan-rekan koalisi lamanya.

“Inilah hancurnya bagaimana budaya politik di negara kita. Ada kecenderungan kalau sudah tak lagi jadi pejabat publik apalagi tak lagi jadi presiden, kawan-kawan lama itu sudah hengkang dan angkat kaki dan tentu sudah punya partner yang baru yaitu adalah presiden yang saat ini sedang berkuasa,” kata Adi.

Ia menambahkan, situasi ini membuat Jokowi kini dinilai nyaris tidak lagi mengantongi dukungan figur kunci di internal parpol yang dapat diandalkan untuk menjaga pengaruh politiknya.

Bagi Adi, kondisi tersebut sangat erat kaitannya dengan fenomena powerless atau melemahnya daya tawar kekuatan politik. Tanpa adanya instrumen kekuasaan negara, Jokowi dinilai tidak lagi memiliki kapasitas dan daya pikat yang sama dalam membangun komunikasi serta mempertahankan kedekatan politik secara intensif dengan para petinggi partai politik nasional.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *