News

Kerlap-Kerlip Negeriku – FAJAR



Oleh: Andi Muhammad Jufri
Praktisi Pembangunan Sosial

PORTALUTAMA.NET – Dari ruang-ruang gelap, terang terpancar berwarna-warni. Di jalan lintas, di halaman gedung dan rumah, di restoran dan kafe, hingga di kamar tidur, semua tersinari oleh kerlap-kerlip lampu.

Dari kecokelatan alami kulit tubuh yang terbalut kain beraneka warna, memancar kilauan kerlap-kerlip pantulan matahari, cahaya lampu, dan sorot kamera.

Dari kain putih alami yang disulap oleh selera desainer, kreator, seniman, hingga politisi, hadir beragam kaus, kemeja, bendera, dan logo yang memanjakan mata sekaligus membuatnya silau kerlap-kerlip.

Dari ruang sitaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), berkali-kali dipamerkan tumpukan uang kertas beragam warna dan nilai—memantulkan kilau menggiurkan di bawah sorotan kamera. Di sudut lain, kerlap-kerlip lampu dari fasilitas mewah di dalam sel penjara Lembaga Pemasyarakatan Cibinong menyajikan pemandangan yang tak kalah kontras.

Dari kehidupan sederhana lalu menjelma punya kuasa, berharta, dan memiliki panggung, di sanalah terpancar kerlap-kerlip cahaya kejujuran yang berkelindan dengan cahaya kebohongan (pencitraan).

Dari rakyat biasa hingga pejabat tinggi (elite), terpancar kerlap-kerlip senyuman, rangkaian kata penuh makna, serta peragaan aksi peduli yang ramah di hadapan kamera.

Dari ruang publik offline hingga layar gawai online, terlihat kerlap-kerlip wajah yang menggoda rakyat. Konten-konten dikemas begitu serius dan estetik, menampilkan citra berkilau yang disesuaikan secara khusus dengan target segmen masyarakat yang hendak disasar.

Bagi mereka yang bertarung di arena politik, fenomena kerlap-kerlip ini bukanlah sekadar rutinitas harian. Pemanasan mesin politik telah dimulai dan akan semakin intensif mendekati 2029. Mereka yang bertengger di Senayan (DPR/MPR), DPRD Tingkat I dan II, para pemegang kekuasaan eksekutif saat ini (presiden, wakil presiden, gubernur, bupati), hingga para penantang baru untuk Pemilu 2029, telah menyalakan “mesin kerlap-kerlip” pencitraan mereka sejak dini.

Kilauan lampu pencitraan ini terbukti krusial karena menentukan tingkat pengenalan (awareness), kesukaan (likeability), dan pada akhirnya pilihan rakyat (voting behavior). Namun, daya yang dibutuhkan untuk menjaga mesin pencitraan ini tetap menyala sangatlah mahal. Tingginya modal politik dan biaya produksi panggung citra kerap menjadi pendorong utama terjadinya penyelewengan, hingga merusak ketahanan moral para penyelenggara kekuasaan di berbagai tingkatan. Patologi birokrasi pun kian marak, melebar, dan merasuk dalam. Jika tak segera dibenahi, moralitas kebangsaan kita berada di ambang keruntuhan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *