News

Bukan Apresiasi, Pengamat Justru ‘Hajar’ KDM Usai Dukung Mas Botok: Pencitraan!



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Dukungan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terhadap gerakan Mas Botok dan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di Gedung DPR RI justru menuai kritik.

Pengamat Politik Heru Subagia menilai dukungan tersebut belum sejalan dengan sikap Dedi Mulyadi dalam merespons persoalan pemberantasan korupsi di Jawa Barat.

Heru bahkan mengungkit tantangan yang sebelumnya telah ia sampaikan kepada Dedi Mulyadi untuk menggelar sayembara menangkap koruptor kelas kakap di Jawa Barat.

Heru Tagih Komitmen Dedi Mulyadi

Heru mengatakan Dedi Mulyadi seharusnya terlebih dahulu menjawab tantangan tersebut sebelum berbicara mengenai pemberantasan korupsi, hukuman mati, hingga perampasan aset koruptor.

“Sebelum KDM berbicara masalah pemberantasan korupsi, hukum mati dan perampasan aset bagi koruptor, harus menjawab ketika saya dua Minggu lalu menanyakan komitmennya terkait ini,” ujar Heru kepada fajar.co.id, Minggu (30/8/2026).

Dijelaskan Heru, dirinya telah menantang Dedi Mulyadi untuk menunjukkan komitmen pemberantasan korupsi melalui sayembara menangkap koruptor kelas kakap di Jawa Barat.

“Saya menantang sayembara menangkap koruptor kelas kakap di Jabar, namun KDM tidak malu mendukung perjuangan mas Botok,” ucapnya.

Heru menyayangkan hingga kini Dedi Mulyadi belum memberikan respons terhadap tantangan tersebut.

“Ini sungguh tragis dan sangat menyayat bagi yang peduli dengan korupsi yang terjadi di Jabar,” Heru menuturkan.

“Sampai hari ini pun KDM tidak pernah merespons apa yang saya katakan,” tambahnya.

Heru Sebut Dukungan KDM sebagai Paradoks

Heru menekankan bahwa terdapat paradoks ketika Dedi Mulyadi menyuarakan pemberantasan korupsi di tingkat nasional, tetapi menurutnya belum menunjukkan respons terhadap persoalan serupa di Jawa Barat.

“Ini menjadi paradoks yang paling parah. Bagaimana seorang KDM melontarkan isu perampasan aset koruptor dan mendukung gerakan mas Botok, sementara dirinya lumpuh terhadap isu ini di Jabar,” cetusnya.

Ia bahkan mengatakan Dedi Mulyadi terlalu jauh dalam menyampaikan sikap terkait isu tersebut.

“Terlalu berlebihan bagi KDM untuk berkomentar melebihi dari Presiden,” ucap dia.

Heru kemudian mengaitkan sikap Dedi Mulyadi dengan peluang politiknya menuju Pilpres 2029. Ia menyebut nama Dedi Mulyadi kembali mencuat dalam bursa calon presiden dan mengklaim elektabilitasnya berada di posisi tinggi.

“Saya kembali lagi mewacanakan dirinya sebagai capres dan saat ini sedang pesta elektabilitas, paling tinggi dengan menyentuh angka 41 persen, mengalahkan lawan-lawannya, termasuk Prabowo,” jelasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *