News

Faktor Jokowi Bikin PSI Cuma 4,1 Persen, Pengamat: Belum Ada Alasan PDIP Ketar-ketir



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mencapai 4,1 persen dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dinilai belum cukup untuk mengancam posisi PDI Perjuangan (PDIP) sebagai salah satu kekuatan politik utama di Indonesia.

Pengamat Politik Universitas Hasanuddin, Endang Sari, mengatakan angka 4,1 persen menunjukkan PSI baru berada sedikit di atas ambang batas parlemen atau parliamentary threshold sebesar 4 persen.

“4,1 persen itu kan menandakan bahwa masih naik sedikit sekali. Karena kemarin memang enggak sampai 4 persen. Nah, 4,1 itu artinya baru lewat pada ambang batas parlementer,” kata Endang kepada fajar.co.id, Rabu, 26 Agustus 2026.

Menurut dia, capaian tersebut memang menjadi sinyal positif bagi PSI karena membuka peluang partai itu memperoleh kursi di DPR pada Pemilu 2029. Namun, angka tersebut belum menunjukkan adanya pergeseran kekuatan politik yang signifikan.

Endang menilai terlalu dini jika kenaikan elektabilitas PSI dibaca sebagai ancaman langsung terhadap PDIP, yang merupakan pemenang Pemilu 2024.

“Kalau dianggap apakah PSI ini adalah ancaman bagi PDIP yang notabene adalah pemenang Pemilu 2024, saya kira itu masih terlalu jauh analisisnya kalau seperti itu,” ujarnya.

Endang mengatakan posisi PSI saat ini lebih tepat dilihat sebagai partai yang mulai memiliki peluang untuk menempatkan wakilnya di parlemen.

Namun, untuk disebut sebagai pesaing serius PDIP maupun partai-partai dengan elektabilitas lebih tinggi, PSI masih membutuhkan peningkatan dukungan yang jauh lebih besar.

“Jadi belum cukup untuk mengancam. Baru sampai pada, oke, boleh untuk berpotensi untuk mendudukkan wakilnya di parlemen,” kata Endang.

Ia menambahkan, ambang batas parlemen 4 persen merupakan batas minimal agar partai politik dapat memperoleh kursi di DPR. Karena itu, capaian 4,1 persen belum bisa dianggap sebagai pencapaian yang aman.

“Karena 4 persen itu baru angka aman untuk bisa lolos parliamentary threshold,” katanya.

Endang juga menyoroti pengaruh Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi terhadap peningkatan elektabilitas PSI.

Belakangan, Jokowi disebut aktif melakukan safari politik dan memberikan dukungan terhadap PSI. Namun, Endang menilai pengaruh tersebut belum terlihat cukup kuat untuk mengubah peta persaingan antara PSI dan PDIP.

“Bahwa faktor Jokowi yang kemudian mentrigger itu, maka sebenarnya kalau kita lihat, yang terjadi adalah PSI yang kelihatannya baru elektabilitas PSI ke 4,1 persen tidak bisa dibaca sebagai ancaman langsung terhadap PDIP,” ujarnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *