Terungkap Suvenir HUT RI di Istana Negara Capai Rp22,4 Miliar

PORTALUTAMA.NET,JAKARTA — Pengadaan Suvenir HUT RI ke-81 di Istana Merdeka, Jakarta jadi sorotan. Disebut mencapai Rp22,4 miliar.
Hal tersebut diungkap oleh akun X @reftif_. Didasarkan dari website Indonesia Procurement (Inaproc).
Inaproc merupakan portal pengadaan nasional resmi yang dikembangkan oleh LKPP. Diperuntukkan untuk sistem informasi elektronik pengadaanbarang dan jasa pemerintah.
Disebutkan ada tiga paket pengadaan suvenir pada helatan 17 Agustus 2026 itu.
Paket pertama senilai Rp8.824.500.000. Nama itemnya pengadaan suvenir HUT RI ke-81 di lingkungan Seketariat Presiden.
Vendor paket pertama tersebut dipegang oleh Satria Internusa Perkasa.
Kemudian paket suvenir kedua dipegang Perusahaan Perseroan PT Sarinah. Nama itemnya sama dengan paket pertama, nilainya Rp10.795.305.000.
Paket pengadaan souvenir ketiga dipegang Buana Kencana Sejahtera. Nama itemnya juga sama, nilainya Rp2.794.425.000.
“Totalnya Rp22,4 miliar,” tulis akun @reftif_ yang dikutip fajar.co.id, Sabtu (22/8/2026).
Selain pengadaan suvenir yang jadi sorotan, sebelumnya juga viral pengadaan burung merpati untuk HUT ke-81 RI yang mencapai Rp305 juta.
Klarifikasi Istana
Sebelumnya, Deputi Bakom RI, Fahd Pahdepie, merespons sorotan tersebut. Ia meminta publik melihat pengadaan tersebut dalam konteks kegiatan berskala nasional.
“Kita harus lihat skalanya, nasional. Misalnya, kita bisa nggak membandingkan sebuah program atau kegiatan skala nasional dengan ukuran pribadi atau dengan ukuran yang lebih kecil? Tidak bisa juga,” kata Fahd, dikutip Fajar.co.id, Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya, perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya memiliki dimensi nasional, tetapi juga internasional.
“Misalnya kalau kita berbicara soal perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Dia bukan hanya punya dimensi nasional sebagai kebanggaan nasional, tetapi juga punya dimensi internasional,” tuturnya.
Fahd mengatakan, rangkaian perayaan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia merupakan negara berdaulat dan memiliki kebanggaan dalam merayakan momentum kemerdekaan.
“Untuk menyampaikan pesan kepada dunia internasional, misalnya Indonesia negara yang berdaulat dan negara yang punya pride untuk merayakan sesuatu. Kira-kira di sisi itu kita tidak bisa menilai itu apakah ini efisien atau tidak efisien,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Fahd mengatakan efisiensi anggaran seharusnya diarahkan pada pengadaan yang berpotensi tumpang tindih.
“Efisiensi yang dilakukan itu terhadap hal-hal yang dilakukan tumpang tindih, misalnya,” ujarnya.
Source link
