Mengenang Lima Pahlawan Sulawesi Selatan dalam Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI

Oleh: Desy Selviana
(Pustakawan)
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum untuk mengenang kembali perjuangan para tokoh yang berperan dalam melawan penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan. Sulawesi Selatan memiliki sejumlah tokoh yang tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa, antara lain Andi Sultan Daeng Radja, Pong Tiku, Andi Abdullah Bau Massepe, La Maddukkelleng, dan Sultan Hasanuddin.
Andi Sultan Daeng Radja merupakan tokoh kemerdekaan Indonesia asal Bulukumba yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Lahir di Matekko, Gantarang, pada 20 Mei 1894, ia merupakan putra pertama Passari Petta Tanra Karaeng Gantarang dan Andi Ninong.
Sejak muda, Sultan Daeng Radja dikenal taat beribadah dan aktif dalam kegiatan Muhammadiyah. Ia juga dikenal sebagai pendiri Masjid Tua di Ponre yang pada masanya merupakan salah satu masjid terbesar di Sulawesi Selatan.
Pendidikan Sultan Daeng Radja ditempuh mulai dari Volksschool di Bulukumba, Europeesche Lagere School (ELS) di Bantaeng, hingga Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Makassar. Setelah menyelesaikan pendidikan di OSVIA pada 1913, ia menjalani sejumlah tugas pemerintahan di berbagai daerah sebelum kemudian dipercaya menjadi Regen atau Kepala Adat Gantarang.
Semangat perjuangan Sultan Daeng Radja terhadap penjajahan tumbuh sejak masa pendidikan. Ia mengikuti perkembangan organisasi kebangsaan seperti Budi Utomo dan Sarekat Dagang Islam.
Secara diam-diam, ia juga mengikuti Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Bersama Dr. Ratulangi dan Andi Pangerang Pettarani, Sultan Daeng Radja kemudian diutus sebagai wakil Sulawesi Selatan dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di Jakarta.
Setelah mengikuti rapat PPKI, Sultan Daeng Radja kembali ke Bulukumba untuk menyampaikan hasil rapat dan kabar kemerdekaan kepada masyarakat. Pada akhir Agustus 1945, ia mengusulkan pembentukan Persatuan Pergerakan Nasional Indonesia (PPNI) sebagai wadah menghimpun pemuda untuk mengamankan dan membela Indonesia.
Perjuangannya membuat Sultan Daeng Radja menjadi perhatian NICA. Karena menolak bekerja sama dengan pemerintahan kolonial tersebut, ia ditangkap di kediamannya di Kampung Kasuara, Gantarang, pada 2 Desember 1945. Ia kemudian ditahan di Makassar dan akhirnya diasingkan ke Menado. Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda, ia dibebaskan pada 8 Januari 1950 dan kembali ke Bulukumba.
Tokoh lain yang tercatat dalam sejarah perjuangan dari Sulawesi Selatan adalah Pong Tiku, pahlawan asal Toraja yang melawan penjajahan Belanda di wilayah Tana Toraja. Perlawanan Pong Tiku dan pasukannya berlangsung sejak kedatangan Belanda ke Toraja pada 1906. Ia mempertahankan wilayahnya melalui sejumlah pertempuran, termasuk di Tondon Pangala’, Benteng Lali’ Londong, Buntu Asu, Ka’do, Tondok, dan Rindingallo.
Source link
