Purbaya Mau Kurangi Subsidi BBM, Ekonom Ingatkan Risiko Tensi Sosial

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Ekonom Universitas Indonesia (UI), Berly Martawardaya, merespons rencana Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa untuk mengurangi belanja subsidi BBM melalui APBN.
Melalui unggahan di akun media sosial X pribadinya, Berly mengaku memahami rencana tersebut. Namun, ia menilai kebijakan pengurangan subsidi BBM, khususnya melalui pembatasan pembelian Pertalite, akan sulit diterima masyarakat jika diterapkan secara terburu-buru.
Menurutnya, salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah akurasi penetapan desil kesejahteraan yang menjadi dasar penerima subsidi.
“Memahami bahwa Pak Purbaya ingin segera kurangi belanja subsidi BBM di APBN. Tapi kalau buru-buru terapkan pembatasan Pertalite ketika akurasi penetapan desil kesejahteraan belum full dipercaya dan diterima masyarakat,” tulis Berly, dikutip Kamis (13/8).
Ia menilai kondisi tersebut berisiko meningkatkan tensi sosial di tengah masyarakat.
“…maka risiko tensi sosial meningkat sangat nyata,” ungkapnya.
Untuk mencegah hal tersebut, Berly menyarankan pemerintah melakukan sejumlah langkah terlebih dahulu sebelum menerapkan pembatasan pembelian Pertalite berdasarkan desil kesejahteraan.
“Langkah-langkah:
- Sosialisasikan bahwa desil ditetapkan sama untuk satu KK.
- Permudah proses bagi warga dewasa untuk pisah KK dengan orang tua.
- Permudah proses dan bukti pengajuan perubahan desil.
- Batasi mobil dengan kapasitas mesin di atas 1.900 cc dan usia di bawah lima tahun untuk membeli Pertalite.
- Jalankan program subsidi tukar tambah dan transisi ke EV dengan benchmark program Cash for Clunkers pada era Obama 2009.
Setelah langkah-langkah di atas dijalankan, baru batasi beli Pertalite berdasarkan desil,” jelasnya.
Berly menekankan, masyarakat pada dasarnya siap menghadapi berbagai kebijakan pemerintah yang diperlukan dalam kondisi ekonomi sulit.
Namun, menurutnya, persoalan dapat muncul jika masyarakat merasa diperlakukan tidak adil.
“Rakyat siap sama-sama susah. Tapi kalau merasa diperlakukan tidak adil ketika kondisi ekonomi makin sulit maka bisa bagai hutan kering di era El Nino yang mudah tersulut. Semoga tidak terjadi,” terangnya.
(Erfyansyah/fajar)
Source link
