News

Soal Ijazah Jokowi dan Font Times New Roman, Guru Besar UGM Beri Peringatan: Jangan Tarik Kesimpulan Gegabah



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Guru Besar Hukum Pidana Universitas Gadjah Mada (UGM), Marcus Priyo Gunarto, menilai tuduhan terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) terkait dugaan pemalsuan ijazah dan skripsi tidak dapat hanya didasarkan pada dugaan.

Menurut Marcus, tuduhan pemalsuan harus dibuktikan dengan alat bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Ia juga menjelaskan terdapat perbedaan antara membuat dokumen palsu dan memalsukan dokumen.

“Membuat palsu, artinya dokumen asli tidak pernah ada, namun pelaku membuat surat atau akta, dalam hal ini ijazah, seolah-olah itu ada dan asli, padahal sebelumnya tidak pernah ada. Itu namanya membuat palsu,” kata Marcus dalam keterangannya dikutip dari situs resmi UGM, Kamis (13/8/2026).

Sementara itu, tindakan memalsukan merujuk pada dokumen yang sebelumnya memang pernah ada, tetapi kemudian dibuat ulang atau diubah sehingga seolah-olah menjadi dokumen asli.

Marcus menilai konstruksi tuduhan terhadap Jokowi maupun UGM dalam polemik ijazah dan skripsi juga harus diperjelas. Menurutnya, pihak yang menuduh perlu menjelaskan apakah yang dimaksud adalah membuat dokumen palsu atau memalsukan dokumen yang sudah ada.

“Dua-duanya adalah kejahatan dan ada ancaman pidana. Ini tidak jelas yang dituduhkan, memalsukan atau membuat palsu,” ujarnya.

Marcus Sebut Ada Rekam Akademik Jokowi di UGM

Marcus menilai tuduhan tersebut menjadi lemah apabila dikaitkan dengan keberadaan berbagai dokumen akademik Jokowi yang tersimpan di Fakultas Kehutanan UGM.

Menurut dia, terdapat data yang mencatat perjalanan akademik Jokowi sejak berstatus sebagai mahasiswa, menjalani proses pendidikan, mengikuti ujian, hingga yudisium.

Selain itu, terdapat pula catatan wisuda serta berita acara yang mendokumentasikan proses akademik tersebut.

“Yang bersangkutan pernah wisuda, dan ada berita acara yang menunjukkan peristiwa tersebut. Maka ijazah memang pernah ada. Bisa dibuktikan dan dapat ditemukan di Fakultas Kehutanan,” kata Marcus.

Menurut Marcus, keberadaan rangkaian dokumen tersebut perlu dilihat secara menyeluruh sebelum seseorang menarik kesimpulan mengenai keaslian dokumen akademik Jokowi.

Ia menilai keaslian sebuah dokumen tidak semestinya disimpulkan hanya berdasarkan satu karakteristik fisik.

Soal Font Skripsi dan Ijazah Jokowi

Marcus juga menanggapi sorotan mengenai penggunaan jenis huruf pada skripsi dan ijazah Jokowi yang disebut memiliki kemiripan dengan Times New Roman.

Menurutnya, pemeriksaan terhadap dokumen lama harus menggunakan metode pembanding. Dokumen Jokowi, kata dia, semestinya dibandingkan dengan skripsi maupun ijazah mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM lainnya yang dibuat pada periode sama atau sebelumnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *