AS Batal Gempur Iran Skala Besar, Analis Geopolitik: Trump Terjepit Stok Amunisi dan Ancaman Serangan Balik

PORTALUTAMA.NET, TEHERAN — Rencana Amerika Serikat (AS) di bawah komando Presiden Donald Trump untuk melancarkan serangan militer skala besar ke Iran dilaporkan mendadak dibatalkan pada menit-menit terakhir.
Analis Geopolitik, Tengku Zulkifli Usman, menilai, pembatalan mendadak hasil koordinasi dengan Komando Pusat AS (CENTCOM) tersebut bukan semata-mata karena diplomasi, melainkan kalkulasi risiko militer yang sangat tinggi bagi Washington dan sekutunya.
Tengku Zulkifli membeberkan lima faktor utama di balik keputusan AS menunda gempuran tersebut:
- Krisis Amunisi Pencegat Rudal: Stok sistem pertahanan udara AS, khususnya rudal Patriot dan THAAD, kian menipis.
- Keterbatasan Perlindungan Ganda: Kapasitas sistem pertahanan AS saat ini tidak cukup untuk melindungi wilayah domestik AS sekaligus membentengi Israel secara bersamaan dari gelombang balasan Iran.
- Peringatan Keras Teheran: Iran mengancam akan melancarkan gempuran total jika AS nekat menyerang.
- Risiko Perang Terbuka: Washington khawatir balasan skala besar Teheran akan menyedot energi dan logistik militer AS secara masif.
- Alasan Diplomasi Semata: Klaim Trump bahwa penundaan dilakukan atas permintaan negara-negara Arab dinilai hanya sebagai alibi geopolitik yang berulang.
“Trump menunda serangan karena khawatir Iran melakukan balasan besar-besaran ke berbagai titik vital, yang berpotensi memicu korban jiwa dalam jumlah besar di kalangan tentara AS,” ujar Tengku Zulkifli Usman melalui pernyataan di akun resminya, Minggu (2/8/2026).
Tekanan Israel dan Pola “Diplomasi Koercif”
Menurut Zulkifli, ada pola yang konsisten dalam eskalasi ini. AS cenderung bersiap menyerang Iran setiap kali Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bertandang ke Washington.
Dalam kunjungan teranyarnya, Netanyahu kembali menekan AS untuk melanjutkan operasi militer (resuming a war). Target utama yang dibidik AS dan Israel kali ini difokuskan pada infrastruktur sipil dan fasilitas energi Iran guna memaksa Teheran tunduk di meja perundingan.
“Ini ritme lama yang dimainkan AS dan Israel. Namun, respons Iran kali ini sangat tegas. Mereka siap melawan sampai akhir dan mengancam akan membalas dengan merudal seluruh infrastruktur sipil dan basis militer AS di kawasan Teluk tanpa terkecuali,” tegasnya.
Peta Konflik Teluk Memanas: Houthi dan Kilang Minyak
Kondisi geopolitik di kawasan Teluk saat ini berada di titik didih. Penundaan serangan AS juga dipengaruhi oleh situasi regional yang sangat rentan memicu perang:
- Konflik Houthi vs Arab Saudi: Ketegangan meningkat pasca-aksi saling serang pekan lalu, di mana Yaman merudal kilang minyak dan infrastruktur penting Saudi.
- Operasi Gabungan AS-Saudi: Serangan bersama yang dilancarkan AS dan Saudi ke wilayah Yaman dan Irak kian memperkeruh peta keamanan kawasan.
“Tensi panas ini sangat mudah terbakar menjadi perang terbuka skala luas jika AS nekat menggempur Iran,” tambah Zulkifli.
Konsolidasi Global: Iran Incar Perang Jangka Panjang
Meskipun diancam gempuran militer, posisi Teheran dinilai tidak menyusut. Iran justru merespons dengan menyiagakan persenjataan generasi baru serta memperketat cengkeraman di Jalur Pelayaran Strategis Selat Hormuz.
Di panggung internasional, Iran terus memperkuat daya tawar (deterrence) dengan menggalang dukungan diplomatik dan pasokan alutsista dari negara sekutu utama.
“Semua pendekatan AS selama beberapa bulan terakhir terbukti gagal menundukkan Teheran. Iran kini membangun konsolidasi global jangka panjang, terutama mengamankan dukungan strategis dari Tiongkok dan Rusia untuk menghadapi skenario terburuk melawan AS dan Israel,” pungkas Tengku Zulkifli. (sam/fajar)
Source link
