Kenaikan Harga Pertamax Disebut Jadi Strategi Pemerintah Jaga Rupiah dan Tekan Beban APBN

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dinilai tidak semata-mata berkaitan dengan perubahan harga jual energi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad) Bonti Wiradinata menyebut penyesuaian harga BBM nonsubsidi berkaitan dengan upaya mempertahankan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sekaligus mengurangi tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Urgensi menaikkan harga BBM ini saya perkirakan terkait dengan strategi pemerintah dalam mempertahankan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta mengatasi tekanan APBN yang terjadi sebagai akibat pelemahan rupiah tersebut,” ujar Bonti dilansir dari ANTARA, Kamis.
Menurut Bonti, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax memang sangat dipengaruhi oleh kondisi eksternal, terutama pergerakan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Ketika kedua faktor tersebut mengalami tekanan dalam periode panjang, pemerintah perlu mengambil langkah penyesuaian agar beban yang ditanggung negara tidak semakin besar.
Ia menilai keputusan pemerintah yang sebelumnya menahan harga BBM nonsubsidi selama beberapa bulan patut diapresiasi karena mampu memberikan ruang bagi masyarakat di tengah tekanan ekonomi. Namun, penundaan penyesuaian harga yang terlalu lama juga dapat memperbesar tekanan terhadap fiskal maupun badan usaha energi.
Bonti menjelaskan, mempertahankan harga BBM nonsubsidi jauh di bawah harga keekonomian dalam jangka panjang berisiko memengaruhi arus kas perusahaan energi dan meningkatkan kebutuhan kompensasi dari negara.
“Dengan menyesuaikan harga, pemerintah meminimalisir potensi pembengkakan biaya kompensasi energi. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa APBN tetap fokus pada pembiayaan prioritas lain,” kata Bonti.
Ia juga menilai dampak sosial dari kenaikan harga Pertamax relatif lebih terkendali dibandingkan dengan kenaikan harga BBM bersubsidi. Hal tersebut karena pengguna BBM nonsubsidi dinilai memiliki pilihan yang lebih luas dalam menyesuaikan pola konsumsi energi.
Sementara itu, Sekretaris Eksekutif YLKI Rio Priambodo mengatakan pihaknya memahami bahwa harga BBM nonsubsidi sangat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak dunia serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Meski demikian, Rio meminta agar kenaikan harga Pertamax dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan kepada konsumen. Menurutnya, masyarakat perlu mendapatkan manfaat yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Source link
