Otak Anak, Ayat Tuhan:Neuroparenting Qurani di Tengah Krisis Pengasuhan

Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.
Alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, dokter riset, dosen, peneliti, penulis puluhan buku, kolumnis, reviewer jurnal internasional terindeks Scopus Q1, trainer berlisensi BNSP, komunikator sains, dan pelopor NiBTM.
PORTALUTAMA.NET – Ada sebuah momen yang hampir semua orang tua pernah rasakan: seorang anak kecil menatap kita dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu, lalu bertanya, “Kenapa langit biru, Ayah?” Atau mungkin ia tiba-tiba menangis kencang karena mainannya diambil kakak, sementara kita berdiri di antara dorongan untuk menenangkan, menasihati, atau justru memarahinya. Di ruang kecil itulah panggung pengasuhan berlangsung: antara naluri orang tua, cahaya wahyu, dan kerja senyap miliaran sel saraf di dalam kepala anak.
Dunia hari ini sedang dilanda krisis pengasuhan. Bukan karena orang tua tidak mencintai anak. Justru sebaliknya: banyak orang tua begitu mencintai anaknya, tetapi tidak selalu tahu bagaimana mengekspresikan cinta itu agar benar-benar menjadi rasa aman, disiplin yang sehat, dan karakter yang kuat. Sebagian orang tua bekerja terlalu panjang, sebagian tenggelam dalam gawai, sebagian mewarisi pola asuh keras dari generasi sebelumnya, dan sebagian lagi bingung membedakan antara ketegasan dan kekerasan.
Di sinilah perpaduan neurosains dan Al-Qur’an menjadi penting. Neurosains membantu kita memahami bagaimana pengalaman sehari-hari membentuk perkembangan anak. Al-Qur’an memberi arah etik: bahwa anak adalah amanah, bukan properti; manusia kecil yang harus ditumbuhkan, bukan dikendalikan semata. Maka, pertanyaan besarnya bukan hanya bagaimana membuat anak patuh, melainkan bagaimana membesarkan manusia yang berakal, berempati, tangguh, dan mengenal Tuhannya dengan cinta.
Indonesia membutuhkan revolusi pengasuhan: dari pola asuh berbasis takut menuju pola asuh berbasis kasih, keteladanan, regulasi emosi, dan makna spiritual. Sains membantu membaca mekanisme perkembangan anak; wahyu memberi arah etik agar pengetahuan itu tidak kehilangan kasih.
Bayangkan otak bayi yang baru lahir sebagai kota yang sedang dibangun dari nol. Jalanan belum terbentuk, gedung-gedung masih berupa fondasi, dan listrik belum sepenuhnya mengalir. Namun, dalam waktu yang luar biasa singkat, terutama pada tiga tahun pertama kehidupan, koneksi saraf terbentuk dengan kecepatan yang menakjubkan. Center on the Developing Child, Harvard University, kerap menjelaskan bahwa pada masa awal kehidupan lebih dari satu juta koneksi saraf baru dapat terbentuk setiap detik. Para ilmuwan menyebut proses ini sinaptogenesis: pembentukan hubungan antarneuron yang kelak menopang cara anak berpikir, merasakan, berbicara, mengingat, dan berperilaku.
Source link
