News

Neuroplastisitas: Otak yang Belajar – FAJAR



Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.

Alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, dokter riset, dosen, peneliti, penulis puluhan buku, reviewer jurnal ilmiah nasional dan internasional, trainer berlisensi BNSP, organisatoris, asisten virtual, perintis NiBTM, dan komunikator sains

PORTALUTAMA.NET – Neuroplastisitas adalah kabar baik dari otak manusia. Otak bukan organ yang selesai ditulis sekali untuk selamanya. Ia serupa taman saraf yang terus dirawat oleh pengalaman, latihan, tidur, emosi, nutrisi, penyakit, pemulihan, dan relasi sosial. Neuroplastisitas berarti kemampuan sistem saraf untuk mengubah aktivitas, struktur, fungsi, atau koneksi sebagai respons terhadap rangsangan dari dalam tubuh maupun lingkungan luar. Definisi ini penting. Ia menolak mitos lama bahwa otak dewasa sudah selesai dibentuk.

Di ruang kelas, neuroplastisitas bekerja ketika mahasiswa memahami konsep sulit setelah berlatih berkali-kali. Di ruang rehabilitasi, ia bekerja ketika penyintas stroke belajar kembali menggenggam sendok. Di rumah, ia bekerja ketika seseorang memperbaiki pola tidur, mengelola stres, membaca lebih teratur, dan mengurangi paparan gawai yang mengganggu fokus. Otak selalu membaca dunia. Lalu ia mengubah dirinya sesuai pola yang paling sering kita ulang.

Jejak Awal Plastisitas

Sejarah gagasan ini panjang. Pada 1890, William James memakai istilah plasticity dalam The Principles of Psychology. Ia belum memiliki MRI, EEG modern, single-cell sequencing (pemetaan informasi biologis di tingkat sel tunggal), maupun pemetaan konektom seperti yang dikenal sains hari ini. Namun ia menangkap intuisi besar. Kebiasaan dapat mengubah sistem saraf. Setelah itu, Santiago Ramon y Cajal menunjukkan bahwa neuron adalah unit dasar sistem saraf. Pada 1948, Jerzy Konorski kemudian dikaitkan dengan istilah neural plasticity, sebelum gagasan plastisitas sinaptik makin populer melalui Donald Hebb pada 1949. Hebb kemudian merumuskan gagasan bahwa hubungan antarneuron dapat menguat bila neuron aktif bersama.

Garis waktu neuroplastisitas terus bergerak. Tahun 1973, Terje Lomo dan Tim Bliss melaporkan long-term potentiation (LTP). LTP adalah peningkatan efisiensi transmisi sinaptik jangka panjang yang menjadi salah satu model biologis belajar dan memori. Pada akhir abad ke-20, riset David Hubel dan Torsten Wiesel tentang sistem visual menunjukkan bahwa pengalaman dini dapat membentuk sirkuit otak. Di era modern, pencitraan otak, neuromodulasi, biomarker digital, dan kecerdasan buatan membuat plastisitas tidak lagi hanya dibahas sebagai teori. Ia mulai diukur, diprediksi, dan diarahkan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *