News

Sebut Evaluasi Publik Soal Kinerja Dua Tahun Presiden Prabowo Buruk, Saidiman Ahmad: ini Bisa Diperbaiki tapi Syaratnya mungkin Berat



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saidiman Ahmad, bicara soal evaluasi publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto di dua tahun masa kepemimpinannya.

Penilian-penilian negatif yang mengarah kearah tidak puas diberikan oleh publik selama dua tahun Presiden Prabowo Subianto memimpin.

Lewat cuitan di akun media sosial X pribadinya, Saidiman Ahmad tegas menyoroti dan menyebut kinerja Pemerintahan di dua tahun aaal ini sangat buruk.

Ini yang kemudian disebutnya jadi sumbee untuk ketidakpuasaan publik. Tentunya asal ketidakpuasaan ini berasal dari berbagai faktor.

Termasuk diantaranya ada persoalan yang dihadapi secara langsung oleh masyarakat seperti ekonomi, situasi politik, dan penegakan hukum.

“Evaluasi publik atas kinerja presiden Prabowo sangat buruk di dua tahun pemerintahannya,” tulisnya dikutip Selasa (20/10).

“Sumber ketidakpuasan itu terutama karena pelbagai persoalan yang sekarang dinilai memburuk seperti ekonomi, situasi politik, dan penegakan hukum,” ujarnya.

Adapun berbagai faktor yang berujung ke arah ketidakpuasaan ini dinilai karena Pemerintah disebut gagal menjalankan tugasnya.

“Publik menilai semua persoalan itu terjadi karena kegagalan pemerintah menjalankan tugasnya,” ungkapnya.

Ditambah lagi, berbagai persoalan mendesak yang juga gagal ditangani dengan baik. Seperti bahan pokok dan pemberantasan korupsi dinilai gagal diatasi pemerintah. 

Program Makan Bergizi Gratis yang disebut ujung tombak dari Pemerintah saat ini dinilai oleh Saidiman juga gagal mendapatkan apresiasi publik.

“Persoalan-persoalan mendesak seperti kenaikan harga bahan pokok dan pemberantasan korupsi dinilai gagal diatasi pemerintah,” tuturnya.

“Bahkan ketika pemerintah bagi-bagi makanan gratis pun umumnya publik tidak memberi apresiasi,” sambungnya.

Saidman kemudian bicara soal hasil survei nasional SMRC pada Oktober 2026 yang menunjukkan posisi Presiden Prabowo Subianto dalam sejumlah simulasi pemilihan presiden (Pilpres).

Dari hasil survei tersebut, Prabowo hanya didukung 9,8 persen. Angka itu bersaing ketat dengan Anies Baswedan (10,3 persen) dan Gibran Rakabuming Raka (8,4 persen). Sementara itu, Dedi Mulyadi (KDM) jauh meninggalkan semuanya dengan 35,5 persen. 

“Kegagalan pemerintah di mata publik ini membawa implikasi yang serius. Data SMRC menunjukkan evaluasi negatif warga pada kinerja pemerintah membuat publik memberi penilaian yang semakin negatif pada pelaksanaan demokrasi,” paparnya.

“Bahkan sekarang yang menilai negara masih berjalan ke arah yang benar sudah di bawah 50 persen. Ini bahaya,” terangnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *