Klaim Pemakzulan Bisa Berlanjut Usai Putusan MK, Rizal Fadillah Pakai Analogi Anak Katak untuk Gibran

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pemerhati Politik dan Kebangsaan, Rizal Fadillah, kembali menanggapi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas gugatan Prof Denny Indrayana dan kawan-kawan terkait persyaratan pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Kali ini, Rizal menggunakan analogi anak katak yang berada di dalam panci berisi air untuk menggambarkan situasi politik Gibran setelah MK mengeluarkan putusan pada 6 Oktober 2026 kemarin.
Menurut cerita Rizal, putusan MK yang menyatakan permohonan tidak diterima bukan berarti polemik mengenai persyaratan pendidikan Gibran telah berakhir.
Ia justru menilai putusan tersebut dapat menjadi awal munculnya desakan pemakzulan terhadap putra Presiden ke-7 RI Jokowi itu.
“Putusan MK Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 tanggal 6 Oktober 2026 adalah awal dinyalakan api untuk merebus anak katak bernama Gibran di dalam panci yang berisi air dingin,” ujar Rizal kepada fajar.co.id, Jumat (8/10/2026).
Rizal Ungkit Usulan Pemakzulan Gibran
Rizal menggambarkan Gibran masih berada dalam situasi aman setelah permohonannya tidak diterima MK. Namun, menurut dia, kondisi tersebut dapat berubah seiring munculnya dorongan politik untuk memproses pemakzulan.
Ia turut menyinggung usulan kader Partai NasDem, Tony Tessar, yang disebutnya mendorong pemakzulan Gibran sebagai kelanjutan dari putusan MK.
“Kader Partai Nasdem Tony Tessar, mulai menghangatkan air dengan usul pemakzulan Gibran sebagai lanjutan Putusan MK,” sebutnya.
Rizal kemudian mengaitkan wacana tersebut dengan Pasal 7A dan 7B UUD 1945 yang mengatur pemberhentian presiden dan/atau wakil presiden dalam masa jabatannya.
Lanjut Rizal, desakan pemakzulan berpotensi terus berkembang apabila memperoleh dukungan politik di DPR.
Sikap Partai Politik di DPR
Dalam analoginya, Rizal menyebut konfigurasi fraksi di DPR sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi perkembangan wacana pemakzulan Gibran.
Ia menyebut sejumlah partai, yakni NasDem, PDIP, Demokrat, PKS, dan Golkar, sebagai pihak yang menurut penilaiannya dapat memperbesar tekanan politik terhadap Gibran.
“Konfigurasi fraksi di DPR sangat memungkinkan Gibran untuk semakin gelisah dan panik. Nasdem, PDIP, Demokrat, PKS, dan Golkar memperbesar nyala api dan mempercepat panas air,” tukasnya.
Rizal juga menyinggung Gerindra dalam analogi tersebut. Ia menggambarkan Gibran berada dalam tekanan politik yang semakin besar dan menyebut pengunduran diri sebagai pilihan yang menurutnya dapat diambil.
Ajak Masyarakat Menekan DPR
Lebih lanjut, Rizal menilai gerakan masyarakat akan menjadi faktor penting dalam mendorong agenda pemakzulan. Ia menyebut upaya tersebut dapat dilakukan melalui demonstrasi maupun komunikasi politik dengan fraksi-fraksi di DPR.
Source link
