Astra Pertajam Portofolio Bisnis, Fokus pada Tiga Lini yang Sumbang 90% Laba
PT Astra International Tbk (ASII) mempertajam portofolio bisnisnya dengan fokus pada tiga lini bisnis utama yang dinilai menjadi mesin pertumbuhan perusahaan.
Head of Corporate Investor Relations Astra International Tira Ardianti mengatakan, perubahan tersebut menandai pergeseran dari struktur yang sebelumnya dikenal dengan tujuh pilar bisnis menjadi tiga bisnis inti (core businesses), yakni otomotif, jasa keuangan, serta mining solutions & heavy equipment.
Menurut Tira, ketiga bisnis inti tersebut saat ini menyumbang sekitar 90% laba Astra secara konsolidasi. Sementara bisnis di luar ketiga lini tersebut dikelompokkan Astra ke dalam wider businesses atau bisnis lainnya seperti agribisnis, infrastruktur, teknologi informasi, dan properti.
“Pada bisnis inti ini kami masih melihat banyak peluang pertumbuhan ke depan dan kami akan terus memperkuatnya, akan terus mempertajam fokus strategi kami kepada tiga bisnis inti ini,” kata Tira dalam acara Media Day Astra di Menara Astra, Jakarta, Rabu (23/9).
Langkah tersebut, kata Tira, tidak berarti Astra meninggalkan bisnis di luar tiga lini utama. Perseroan justru telah menyiapkan kerangka yang lebih jelas dalam mengelola wider businesses, sembari terus mempertajam strategi pada tiga bisnis inti.
Tiga Mesin Pertumbuhan Utama
Tira menjelaskan, bisnis otomotif menjadi salah satu core engine Astra yang ditopang oleh ekosistem yang telah dibangun selama puluhan tahun. Ekosistem tersebut mencakup manufaktur kendaraan, distribusi, jaringan dealer, penjualan ritel, pembiayaan, hingga perdagangan kendaraan bekas melalui OLXmobbi. Astra juga memiliki bisnis komponen melalui Astra Otoparts.
Menurut Tira, kapabilitas tersebut menjadi fondasi bagi Astra untuk mencari sumber pertumbuhan baru di sektor otomotif.
“Astra tidak hanya jualan kendaraan, tapi Astra juga beyond selling the vehicles. Kami juga memberikan kemudahan bagi konsumen untuk memenuhi kebutuhan mobilitas mereka pada tahap awal sampai pada pembelian, financing, insurance, trade-in, kemudian juga bahkan untuk pada next investment cycle berikutnya sampai mereka beli mobil untuk kendaraan berikutnya atau kendaraan pengganti,” ujarnya.
Sumber: paparan perusahaan pada acara Media Day 2026.
Bisnis inti kedua adalah jasa keuangan melalui Astra Financial. Portofolionya mencakup pembiayaan konsumen, pembiayaan alat berat, layanan digital, fintech, serta asuransi umum dan jiwa.
Tira mengatakan, kontribusi terbesar Astra Financial saat ini masih berasal dari pembiayaan kendaraan roda empat dan roda dua. Astra Financial juga ditopang basis pelanggan yang luas, jaringan fisik di seluruh Indonesia, serta kapabilitas analisis kredit dan penagihan.
Sementara itu, lini Mining Solutions & Heavy Equipment dikelola antara lain melalui PT United Tractors Tbk (UNTR), yang sekitar 60% sahamnya dimiliki Astra International. Portofolio bisnis United Tractors mencakup distribusi alat berat, kontraktor pertambangan melalui PT Pamapersada Nusantara, serta bisnis pertambangan seperti emas dan nikel, termasuk pengembangan energi terbarukan.
Tira menyebut integrasi portofolio tersebut menjadi salah satu kekuatan Astra dalam menghadapi perubahan siklus ekonomi.
“Jadi, inilah salah satu the beauty of diversification-nya Astra yang dibangun sudah sejak lama, di mana Astra akhirnya well-positioned untuk bisa melewati berbagai siklus ekonomi,” kata Tira.
Ia mencontohkan, ketika pelemahan rupiah dapat memberikan tekanan terhadap sektor otomotif karena harga kendaraan dan daya beli masyarakat terdampak, kondisi tersebut dapat memberikan keuntungan relatif bagi sektor komoditas yang pendapatannya berkaitan dengan dolar AS.
Perjalanan Panjang dan Landasan Catur Dharma
Astra, yang didirikan pada 1957 dan kini menuju usia 70 tahun, telah memperluas bisnisnya jauh melampaui bisnis otomotif yang menjadi awal perjalanan perseroan.
Perusahaan memulai perjalanan sebagai distributor resmi Toyota pada 1957, kemudian menjadi distributor Honda dan Fuji Xerox pada 1970. Astra selanjutnya masuk ke bisnis alat berat melalui United Tractors pada 1972 dan jasa keuangan melalui Astra Sedaya Finance pada 1982.
Setelah melantai di Bursa Efek Indonesia pada 1990, Astra terus melakukan diversifikasi bisnis, termasuk ke sektor nikel, energi terbarukan, dan kesehatan.
Dalam perjalanan panjang dan rekam jejak pengembangannya, Astra selalu menanamkan serta memegang teguh filosofi perusahaan yang dikenal sebagai Catur Dharma. Nilai-nilai inilah yang mendasari setiap keputusan bisnis maupun pembentukan budaya kerja di seluruh Grup Astra, yang terdiri dari empat pilar utama: Menjadi Aset yang Berguna bagi Bangsa dan Negara (To be a Useful Asset to the Nation), Memberikan Pelayanan yang Terbaik kepada Pelanggan (To Provide the Best Service to Customers), Menghargai Individu dan Membina Kerja Sama (To Respect the Individual and Promote Teamwork) dan Terus Berusaha Mencapai yang Terbaik (To Continually Strive for Excellence).
