News

Prabowo Gandeng Gibran atau AHY Jadi Wapres, Hendri Satrio: Bisa Membahayakan Gerindra



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pemilihan Presiden 2029 masih tiga tahun lagi. Namun, sejumlah partai dan kelompok politik mulai membaca kemungkinan peta kekuatan yang akan terbentuk menjelang kontestasi tersebut.

Pengamat politik sekaligus Founder Lembaga Survei Kedai Kopi, Hendri Satrio, melihat munculnya dua poros kekuatan yang mulai menjadi perhatian: kubu Solo dan kubu Cikeas.

Kubu Solo merujuk pada Presiden ke-7 Joko Widodo beserta keluarganya dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Adapun kubu Cikeas diasosiasikan dengan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, keluarganya, dan Partai Demokrat.

Menurut Hendri, kedua kelompok itu belum berada dalam situasi pertarungan terbuka. Mereka masih berada pada tahap membaca peta, menghitung kekuatan, dan menyiapkan kemungkinan politik untuk beberapa tahun mendatang.

“Kalau kemudian ada dua kubu Solo dan Cikeas, ini sih menurut gue ya kubu biasa aja,” kata Hendri.

Ia menggambarkan aktivitas kedua kubu itu sebagai proses saling membaca gerak politik.

“Saling mengintip, bersiap-siap, memanaskan mesin, sama-sama cari duit, ngumpulin duit kan,” ujarnya.

AHY atau Gibran?

Salah satu persoalan yang menarik perhatian Hendri adalah kemungkinan pasangan Prabowo Subianto pada Pilpres 2029, jika presiden saat ini kembali maju.

Menurut dia, pilihan calon wakil presiden bukan sekadar soal elektabilitas figur. Keputusan tersebut juga dapat memengaruhi kekuatan partai yang menaungi atau berada di belakang sang calon.

Hendri mencontohkan kemungkinan Prabowo menggandeng Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Jika skenario itu terjadi, kata dia, Demokrat berpotensi memperoleh keuntungan politik yang signifikan. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mengubah perimbangan kekuatan antarpartai setelah pemerintahan berikutnya.

“Misalnya nih, Prabowo ambil AHY jadi wapresnya. Artinya apa? Dia membesarkan Demokrat. Yang bisa jadi membahayakan Gerindra di 2034,” kata Hendri, seperti dikutip dari fajar.co.id, Selasa, 22 September 2026.

Skenario berbeda muncul apabila Prabowo kembali berpasangan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Menurut Hendri, pilihan itu pun memiliki konsekuensi terhadap peta politik jangka panjang Gerindra.

“Sama, kalau dia mengambil Gibran, bisa jadi membahayakan Gerindra juga. Dan membesarkan PSI atau yang dalam bayang-bayang Golkar,” ujarnya.

Dengan demikian, menurut Hendri, keputusan mengenai siapa yang akan mendampingi Prabowo pada 2029 tidak berhenti pada hubungan presiden dan wakil presiden. Ada kepentingan partai yang ikut dipertaruhkan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *