Rocky Gerung Disebut “Antek Prabowo” oleh Ubedilah Badrun, Singgung Narasi Sosialisme

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Perdebatan antara pakar hukum tata negara Feri Amsari dan filsuf Rocky Gerung mengenai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto turut mendapat sorotan Dosen Ilmu Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun.
Ubedilah secara khusus menanggapi pandangan Rocky Gerung yang menyebut pemerintahan Prabowo sedang menjalankan sosialisme. Menurut Ubedilah, label tersebut perlu diuji dengan melihat praktik kekuasaan dan ekonomi yang berlangsung, bukan hanya sejumlah program pemerintah.
Ubedilah bahkan menilai narasi mengenai “sosialisme Prabowo” dapat dibaca sebagai cara Rocky Gerung menjelaskan sekaligus melindungi posisi politiknya di tengah anggapan bahwa dirinya mendukung pemerintahan Prabowo. Penilaian tersebut merupakan pandangan politik Ubedilah terhadap posisi Rocky.
“Tadi saya katakan bahwa itu adalah narasi sebagai tempat persembunyian seorang Rocky Gerung karena Rocky Gerung mau membantah bahwa dia adalah “antek-antek Prabowo”. Enggak mungkin dong dia akan menjelaskan posisi politik aslinya itu. Bagaimana kita bisa meyakini atau membenarkan Prabowo sedang menjalankan sosialisme,” kata Ubedilah dalam diskusi yang membahas perdebatan tersebut.
Menurut Ubedilah, pembahasan mengenai sosialisme pemerintahan Prabowo perlu terlebih dahulu menjelaskan sosialisme yang dimaksud. Ia mempertanyakan dasar yang digunakan untuk memasukkan kebijakan pemerintahan saat ini ke dalam kategori tersebut.
“Kalau diurai narasi bahwa Prabowo sedang menjalankan sosialisme, itu menurut saya jika diurai tidak benar. Sosialisme yang mana dulu?, Prabowo tidak pernah menemukan pemikiran otentik Prabowo tentang menafsirkan, menganalisis sosisalisme, yang ada narasi heroik, nasionalisme, kedaulatan negara, dan antek-antek asing. Sosialisme itu tidak musuh dengan pihak asing, tapi sosialisme itu dia bermusuhan dengan kapitalisme. Nah Prabowo ketika masuk ke ranah bisnis, itu praktik kapitalisme,” ujarnya.
Ubedilah Soroti MBG dan Koperasi Merah Putih
Ubedilah juga mempertanyakan penggunaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) sebagai dasar untuk menyebut pemerintahan Prabowo menjalankan sosialisme.
Menurut dia, keberadaan program tersebut tidak secara otomatis menjadikan keseluruhan praktik ekonomi pemerintahan sebagai sosialisme. Ia justru menilai praktik ekonomi dan kekuasaan yang berlangsung saat ini menunjukkan karakter yang berbeda.
“Bagaimana kita bisa meyakini atau membenarkan Prabowo sedang menjalankan sosialisme. Sementara praktik kekuasaan dan praktik ekonomi yang berjalan di republik ini sesungguhnya adalah kapitalisme,” kata Ubedilah.
Source link
