News

Muncul Wacana Paket Anies-Gibran, Geisz Khalifah: Semua Orang Cocok, Kecuali Dia



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Wacana pasangan calon untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menjadi perbincangan, termasuk kemungkinan mempertemukan Anies Baswedan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Namun, kemungkinan tersebut mendapat penolakan keras dari mantan Komisaris Ancol sekaligus sahabat Anies, Geisz Khalifah.

Ia bahkan mengaku sulit menerima jika Anies harus berpasangan dengan Gibran.

Dikatakan Geisz, dukungannya terhadap Anies selama ini dibangun atas kesamaan visi, gagasan, dan nilai yang diperjuangkan.

Karena itu, ia menilai pilihan politik tidak semestinya mengorbankan prinsip demi mendapatkan kekuasaan.

Penjelasan Mengapa Gibran Tidak Cocok Dampingi Anies

Geisz secara terang-terangan menyebut hampir semua tokoh bisa saja dipasangkan dengan Anies, tetapi tidak dengan Gibran.

“Semua orang cocok sama Anies kecuali Gibran. Kecuali Gibran,” ujar Geisz, dikutip fajar.co.id, Jumat (14/8/2026).

Ia kemudian mengungkapkan alasan di balik sikap tersebut. Geisz menilai latar belakang politik Gibran berkaitan dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengubah batas usia calon presiden dan wakil presiden menjadi persoalan prinsip baginya.

“Dibuat sayang gak cocok aja gitu, ya gimana Anies intelektual bersih terus didampingi sama anak haram konstitusi,” katanya.

Geisz menekankan bahwa jika Anies tetap menggandeng Gibran hanya demi kepentingan elektoral, hal itu justru bertentangan dengan nilai yang selama ini menjadi dasar perjuangan politiknya.

“Itu sama aja kita merusak diri kita sendiri. Menutup mata untuk sebuah ketidakbenaran demi kekuasaan,” tegasnya.

Tidak Mau Dukungan Berubah karena Kekuasaan

Geisz mengaku mendukung Anies bukan karena kepentingan materi maupun keuntungan politik pribadi.

Ia mengatakan dukungan tersebut diberikan karena adanya kesamaan visi yang diyakininya dapat membawa perubahan bagi bangsa.

“Yah gak usah berteman sama gua, kan kita dukung Anies itu dengan, apa, kalau bahasa hiperbolanya segenap hati, segenap pikiran, segenap tenaga,” Geisz menuturkan.

“Karena apa? karena visi, karena nilai. Lalu tiba-tiba dia lompat dari itu demi kekuasaan, ya jalan sendiri aja sana, ngapain sih temennin?,” tambahnya.

Lanjut Geisz, seorang tokoh politik memang harus mampu melakukan kompromi. Namun, kompromi tersebut memiliki batas ketika menyangkut persoalan prinsip dan etika.

Ingatkan Soal Putusan MK Nomor 90

Geisz berujar, persoalan yang melatarbelakangi pencalonan Gibran pada Pilpres 2024 bukan sekadar dinamika politik biasa.

“Ya jelas dong, kan MK 90 kan cacat fundamental itu,” ucap Geisz.

Ia memahami bahwa politik pada dasarnya merupakan arena yang mempertemukan berbagai kepentingan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *