Pengamat: Sayembara Rp100 Juta Denny Indrayana Bukan Tingkah Laku Seorang Profesor

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Sayembara berhadiah Rp100 juta yang digaungkan pakar hukum tata negara Prof Denny Indrayana terkait ijazah SMA Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih menjadi perbincangan publik.
Pengamat Politik, Heru Subagia, melihat sayembara tersebut justru telah mencapai tujuan awalnya, yakni memancing perhatian dan menciptakan kegaduhan di tengah masyarakat.
Dikatakan Heru, penggunaan nominal Rp100 juta sebagai hadiah dalam sayembara tersebut bukan sekadar persoalan mencari bukti, tetapi memiliki dimensi politik yang lebih kuat.
Sayembara Denny Berhasil Ciptakan Kegaduhan
Heru menuturkan, selama dua hari sejak sayembara tersebut digaungkan, isu ijazah Gibran kembali menjadi perbincangan luas di ruang publik.
“Selama dua hari ini, tawaran dari Denny Indrayana Rp100 juta sudah berhasil membuat kegaduhan di masyarakat,” ujar Heru kepada fajar.co.id, Selasa (11/8/2026).
Ia menduga kegaduhan tersebut bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan.
“Tentunya saya melihat bahwa kegaduhan ini memang sengaja diciptakan,” ucapnya.
Heru kemudian mempertanyakan tujuan politik di balik sayembara yang digelar Denny tersebut.
“Dan tentu sudah menjadi target utama bahwa Denny ingin sebuah penetapan yang sifatnya lebih politis dan teknis daripada pendekatan akademis,” tukasnya.
Nilai Rp100 Juta Jadi Umpan
Asumsi Heru, nominal Rp100 juta yang ditawarkan Denny justru menjadi daya tarik utama sehingga masyarakat ikut terseret dalam polemik tersebut.
“Karenanya secara prinsip, betul sayembara ini didesain sedemikian rupa sehingga pancingan uang Rp100 juta telah sukses,” jelasnya.
Ia bahkan menyebut penggunaan angka tersebut sebagai sebuah trik untuk menarik perhatian publik.
“Melihat trik dan menipulasi angka Rp100 juta yang dijadikan umpan, perbuatan seorang politisi. Bukan bagian dari tingkah laku dan perilaku dari seorang Profesor,” ucap Heru.
Heru menekankan bahwa pola tersebut semakin memperlihatkan bahwa polemik ijazah Gibran telah dikemas dalam bentuk yang lebih politis.
“Sudah jelas mempertontonkan ke publik bahwa orkestrasi ijazah Gibran ini dikemas sedemikian rupa,” imbuhnya.
Lebih jauh, Heru mengatakan polemik sayembara tersebut berpotensi membuat publik menarik kesimpulan bahwa persoalan ijazah Gibran tidak lagi semata-mata berkaitan dengan verifikasi akademik.
“Masyarakat semakin meyakini bahwa apa yang dilakukan dalam sayembara Rp100 juta ini, semata-mata politik yang identik dengan rekayasa,” tegasnya.
Ia menilai isu tersebut juga memiliki target tertentu yang hendak dicapai.
Source link
