Ichsanuddin Noorsy: Pejabat Nikmati Fasilitas Mewah dengan Gila, Sementara Rakyat Tanggung Utang Negara Rp9.920 Triliun

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Ekonom Ichsanuddin Noorsy menyoroti tingkah laku pejabat di Indonesia. Dia menilai sejumlah pejabat menikmati kemewahan di atas beban utang negara yang ditanggung rakyat.
Hal tersebut diungkapkan Ichsanuddin saat berbincang dengan Akbar Faizal. Ditayangkan di YouTube Akbar Faizal Uncensored.
Mulanya, Ichsanuddin mengungkapkan fenomena dimana pejabat di Indonesia menikmati kemewahan. Sementara utang negara tinggi.
“Bagaimana mungkin saya bilang, sebuah negara yang punya beban utang tinggi, begitu banyak pejabatnya dari eselon 2 ke atas, itu menikmati kemewahan dan kenyamanan,” kata Ichsanuddin dikutip Kamis (6/8/2026).
Dia kemudian menceritakan bagaimana dirinya menghindari fasilitas tersebut. Terjadi saat dia menjadi pejabat keuangan.
“Saya pernah menjabat, Akbar. Bukan sekadar jadi anggota DPR. Saya pernah jadi pejabat keuangan, tapi saya tidak pernah mau menikmati, karena saya tahu di situ ada beban rakyat,” ungkapnya.
“Saya dapat dasilitas five star plus plus. Tapi tidak mau sedikit pun saya nikmati,” sambung Ichsanuddin.
Semua itu, kata dia, dilakukan untuk menjaga moralitasnya.
“Ini bukan saya bercerirta pada diri saya. Tapi saya ingin mengatakan bahwa i keep maintain my morality. Gue tidak ingin terjebak di situ,” imbuhnya.
Tapi tidak semua pejabat punya komitmen yang sama. Menurutnya, banyak pejabat yang malah bermewah-mewah.
“Saya lihat orang-orang itu menikmati dengan gila. Beban utang sedemikian tinggi mereka bisa bermewah-mewahan,” ucapnya.
Saat ini, Ichsanuddin melihat pejabat negara menggunakan kendaraan mewah dan rumah mewah. Semuanya ditanggung negara.
Di sisi lain, utang negara tak sedikit.
“Sementara negara menanggung beban utang Rp9.920 triliun yang dep service rasionya tinggi, utang per PDB-nya mencapai 40 persen lebih sedikit. Enggak layak, nggak bermoral,” paparnya.
Di tengah rusaknya moral, dia pun mewanti-wanti dampak ke depannya.
“Maka ketika tidak ada moral, Anda tahu apa yang terjadi? Nggak ada etik. Ketika tidak ada etik apa (selanjutnya)? Enggak ada batasan-batasan,” pungkasnya.
(Arya/Fajar)
Source link
