Usai Timnas Indonesia Kalah dari Vietnam, Regulasi Pemain Asing Mulai Dibanding-bandingkan

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Kekalahan Timnas Indonesia tanpa balas 0-3 dari Vietnam, pada laga Grup A Piala AFF menjadi perbincangan khusus penggemar sepak bola di media sosial.
Para penggemar skuad Garuda dengan cepat mencoba mengorek titik lemah Timnas Indonesia mulai dari sisi pemain, hingga strategi yang diterapkan pelatih.
Kini bahkan muncul perbincangan soal kualitas pemain lokal Indonesia yang dikaitkan dengan regulasi pemain asing di Super League. Para penggemar sepak bola tanah air mencoba membandingkan regulasi yang ada di sini dengan yang berlalu di Vietnam.
“AYO DISKUSI – Sejauh mana regulasi pemain asing berpengaruh ke Timnas?”; begitu ciutan salah satu pegiat media sosial yang fokus membahas isu olahraga, Bang Ojik.
Melalui akun media sosial X @ojikneyasyah1, dia membandingkan regulasi pemain asing di Super League dengan V.League 1 Vietnam.
“Begini perbandingan aturan pemain asing:
V.League 1 Vietnam:
– boleh daftarkan 4 pemain, hanya 3 yang bisa main sama-sama.”
Itu berbeda dengan yang berlalu di Super League, di mana regulasi membolehkan klub mendaftarkan 11 pemain asing, sembilan bisa masuk DSP, dan Tujuh bisa main sama-sama.
Dia menilai, regulasi yang berlaku di Vietnam itu karena mereka punya tujuan membatasi pemain asing, untuk melindungi ruang tumbuh talenta lokal agar menjadi tulang punggung (core player) di klub masing-masing.
“Sedangkan di Indonesia kita ingin klub semakin kompetitif, jadi output pemain lokal yang muncul di klub ya benar benar pemain yang bagus,” katanya.
“Sekarang pertanyaannya, menurut kalian, apakah filosofi yang kita terapkan berhasil? Atau justru nyatanya gagal? Karena dengan 7 pemain asing sebagai starter otomatis posisi core team seperti striker, bek tengah, playmaker hampir pasti diisi pemain asing.”
Regulasi itu juga memunculkan pertanyaan regulasi tersebut justru menyulitkan lahirnya talenta-talenta baru Timnas Indonesia, di tengah banyaknya pemain asing yang boleh bermain pada setiap klub di Indonesia.
“Apakah ini yang menghambat kita kesulitan melahirkan talenta-talenta baru sekelas Firman Utina, Boaz Solossa, dll? Talenta lokal kita berkembangnya sekarang ya di bek sayap atau Winger. Sementara untuk timnas, karena talenta tak lagi muncul di berbagai posisi, kita ambil naturalisasi, lalu naturalisasinya pulang dan ambil tempat di liga sehingga talenta lokal tetap gagal muncul,” katanya.
*Ruwet juga ya. Jadi kita perlu pembatasan lebih ketat seperti Vietnam atau regulasi yang ada saat ini sudah benar?
Gimana pendapat kalian, kita diskusikan.” (fajar)
Source link
