Siapa Pun Gubernur BI Tak Serta Merta Kuatkan Rupiah, Pengamat Nilai Penyebabnya dari MBG hingga KDMP
PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pergantian Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai tak serta merta mampu menguatkan nilai tukar rupiah. Penilaian itu muncul seiring mundurnya Perry Warjiyo setelah menjabat sebagai Gubernur BI selama tujuh tahun.
Hal tersebut diungkapkan Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi. Menurutnya, selama ini Perry telah bekerja keras menahan pelemahan rupiah.
“Perry Warjiyo sudah bekerja keras untuk menahan agar rupiah ini mengalami penguatan, tapi kita lihat sampai saat ini belum bisa mengangkat nilai rupiah,” kata Ibrahim kepada fajar.co.id, Senin (27/7/2026).
Ibrahim mengungkapkan, pengunduran diri Perry menunjukkan sikap yang baik. Namun, menurutnya, siapa pun yang menggantikan Perry belum tentu mampu memenuhi ekspektasi pemerintah untuk menguatkan nilai rupiah.
“Ini adalah sesuatu yang luar biasa bagi Gubernur BI. Kita lihat, siapa pun yang memimpin BI sangat sulit membuat penguatan rupiah,” terangnya.
“Pemerintah itu mau rupiah kembali menguat ke Rp16.500, tapi yang kita lihat tidak serta merta mengalami penguatan,” sambungnya.
Alasan Pelemahan Rupiah
Ibrahim menerangkan, ada banyak faktor yang menyebabkan pelemahan rupiah, mulai dari faktor eksternal hingga kondisi dalam negeri.
Di dalam negeri, menurutnya, persoalan utamanya adalah lemahnya kondisi fiskal. Hal itu dipengaruhi oleh sejumlah program pemerintah yang menggunakan anggaran besar, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
“Kenapa? Banyak program pemerintah yang jumbo, seperti MBG, Koperasi Desa Merah Putih yang memakan anggaran besar,” ungkapnya.
Menurut Ibrahim, program-program dengan anggaran jumbo tersebut juga menghadapi berbagai persoalan, sehingga tidak hanya mempersempit ruang fiskal, tetapi juga membuat pelaksanaannya tidak berjalan sesuai proyeksi.
“Di situ mengalami permasalahan-permasalahan menguapnya dana, seperti dalam program MBG dan Kopdes Merah Putih,” ucapnya.
Melemahnya kondisi fiskal beserta efek dominonya, kata dia, turut berdampak terhadap pelemahan rupiah.
“Sehingga kekuatan fiskal di dalam negeri mengalami sedikit permasalahan. Ini berdampak terhadap pelemahan mata uang rupiah,” terangnya.
Sementara itu, dari sisi eksternal, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global.
“Karena apa? Karena geopolitik, perekonomian dalam negeri carut marut, ini yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” ungkapnya.
Saat ini, lanjut Ibrahim, konflik masih terjadi di berbagai kawasan.
“Ekonomi global tidak baik-baik saja. Perang terjadi di Timur Tengah, di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina, di Timur Tengah antara Amerika dan Iran. Kita lihat, sampai saat ini masih terjadi perang yang bahkan melebar ke Yaman, Arab Saudi, dan Turki,” paparnya.
Source link
