Kisah Kepelatihan Luis de la Fuente yang Penuh Jalan Terjal, Gladiator Itu Kini Menaklukkan Dunia

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pelatih Luis de la Fuente namanya kini bersinar usai membawa Timnas Spanyol mejadi kampium Piala Dunia 2026. Namun, kisah kepelatihannya ternyata penuh dengan lika-liku dan jalan terjal yang sempat membuatnya nyaris putus asa.
Pada Oktober 2011, karier kepelatihan Luis de la Fuente berada di titik terendah. Setelah hanya mendampingi Deportivo Alavés dalam 11 pertandingan di divisi ketiga sepak bola Spanyol, ia dipecat.
Alavés tertahan di posisi kedelapan, bersusah payah meraih kemenangan, dan tak satu pun rencana taktis De la Fuente yang membuahkan hasil.
Pemecatan itu memukulnya begitu telak.
Setelah peristiwa tersebut, De la Fuente terdampar dalam masa menganggur selama 1,5 tahun. Ia mengenang periode kelam itu sebagai “los 78 lunes al sol”, 78 hari Senin di bawah terik matahari, atau 78 pekan hidup tanpa pekerjaan.
Tabungannya perlahan menipis, sementara bayang-bayang ketakutan terbesar setiap pelatih mulai menghantuinya, yakni dilupakan oleh zaman.
Namun, alih-alih tenggelam dalam ratapan, De la Fuente memilih jalan rekonstruksi diri.
Ia memacu mobilnya menembus jalanan Spanyol, melintasi berbagai kota demi mengamati dari dekat sesi-sesi latihan pelatih lain.
Dia membedah filosofi radikal Marcelo Bielsa, tekun mempelajari bahasa Inggris, hingga menenggelamkan diri dalam buku-buku sejarah Romawi Kuno. Dia mempelajari kisah para gladiator, ajaran Stoikisme, dan fajar filsafat klasik.
Titik Balik dan Pengakuan Sejarah
Momen pembalik takdir itu akhirnya tiba pada Mei 2013. Ginés Meléndez, Koordinator Usia Muda Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF), memanggil De la Fuente untuk sebuah sesi wawancara atas rekomendasi seorang kolega.
Dalam pertemuan itu, Meléndez tidak hanya melihat seorang kandidat pelatih. Ia menemukan sosok pria istimewa, seorang juru taktik yang telah sepenuhnya melepaskan ego keduniawiannya.
Sisa cerita tersebut adalah sejarah. Tanpa pernah sekalipun menukangi klub papan atas di divisi teratas, Luis de la Fuente membuktikan bahwa ketabahan dan penataan ulang jiwa mampu membawanya melampaui batas, berdiri di puncak tertinggi sebagai Juara Eropa dan Juara Dunia.
Diberitakan sebelumnya, Luis De La Fuente mempersembahkan gelar juara Piala Dunia usai anak asuhnya di Timnas Spanyol tampil luar biasa.
Timnas Spanyol berhasil keluar sebagai tim terbaik dan juara di ajang Piala Dunia 2026.
Spanyol jadi negara terbaik di dunia cabang sepak bola ini setelah memenangkan laga sengit di final Piala Dunia 2026.
La Roja berhasil memenangkan laga final saat mereka berhadapan dengan Timnas Argentina.
Source link
