Dokter Tifa Curhat soal Momen Kenakan Rompi Tahanan: Baju Oranye Ini Justru Jadi Baju Zirah Perjuangan

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Salah satu tersangka dalam perkara dugaan fitnah terkait isu ijazah Presiden ke-7 RI, Jokowi, dokter Tifauzia Tyassuma membagikan pengalamannya saat mengenakan rompi tahanan Polda Metro Jaya.
Tifa mengaku tidak pernah membayangkan dirinya berada pada situasi tersebut.
“Aku sudah pernah berbaju orange. Aku tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini,” ujar Tifa dikutip fajar.co.id, Selasa (23/6/2026).
Dikatakan Tifa, momen mengenakan rompi tahanan menjadi pengalaman yang tidak mudah karena harus berdiri di hadapan banyak orang dengan berbagai penilaian yang muncul.
“Memakai baju orange, berdiri di tengah kerumunan, dilihat banyak mata, seolah hidupku diringkas menjadi satu warna,” ungkapnya.
Rompi Tahanan Jadi Simbol Perjuangan
Meski demikian, Tifa mengaku tidak memandang rompi tahanan sebagai bentuk kehinaan.
Sebaliknya, ia menilai pakaian yang identik dengan tahanan tersebut justru menjadi simbol perjuangan yang sedang dijalaninya.
“Baju orange ini, yang sering diteriakkan buzzer dan termul untuk menghinaku. Ketika dia kusandang di tubuhku, justru seperti baju zirah yang membungkus perjuanganku,” ucapnya.
Ia bahkan menyebut rompi tahanan tersebut sebagai tanda perlawanan terhadap apa yang diyakininya sebagai kebohongan dan ketidakadilan.
Akui Pernah Merasa Lelah dan Takut
Dalam curahan hatinya, Tifa juga mengaku mengalami berbagai pergulatan batin selama menghadapi proses hukum yang sedang berjalan.
Ia mengatakan di balik senyum yang selama ini ditampilkan kepada publik, terdapat rasa lelah, takut, hingga berbagai pertanyaan yang belum tentu memiliki jawaban.
“Di balik senyum ini, ada banyak hal yang tidak terlihat. Ada lelah, ada takut, ada pertanyaan yang tidak selalu punya jawaban,” imbuhnya.
Namun demikian, ia menegaskan tidak ingin kehilangan prinsip yang selama ini diyakininya hanya demi memperoleh kenyamanan.
Tegaskan Tetap Berdiri pada Keyakinannya
Lebih lanjut, Tifa mengaku memahami bahwa pandangan dan sikap yang disampaikannya selama ini tidak selalu diterima oleh semua pihak.
Meski begitu, ia memilih untuk tetap menyuarakan hal-hal yang diyakininya benar.
“Aku hanya berjalan dengan apa yang kupercaya. Kadang langkahku pelan, kadang aku ragu, tapi aku tidak pernah benar-benar berhenti,” tegasnya.
Kata dia, diam bukanlah pilihan ketika hati nuraninya mendorong untuk tetap berbicara mengenai hal yang dianggap penting.
Tifa juga mengungkapkan bahwa banyak orang mungkin merasa iba ketika melihat dirinya mengenakan rompi tahanan.
Namun di dalam dirinya, ia mengaku justru menemukan semangat baru untuk tetap melangkah menghadapi situasi yang ada.
“Hari itu, melihat aku berbaju orange, mungkin banyak orang iba padaku. Tapi di dalam diriku muncul bara api membara seterang baju ini,” terangnya.
Source link
