News

Hijrah ke Ruang Virtual: Meneguhkan Etika Digital di Tahun Baru Islam




Oleh: Ahmadin
(Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNM)

PORTALUTAMA.NET – Setiap momentum peringatan Tahun Baru Hijriah, umat Islam selalu diajak berziarah ke masa lampau, mengenang dan merenungkan kembali makna hijrah. Sejarah Islam mengajarkan kita tentang hijrah sebagai perpindahan Nabi Muhammad Saw. bersama para sahabat dari Mekkah ke Madinah. Sebuah peristiwa penting yang bukan sekadar perpindahan ruang dakwah, tetapi merupakan konstruksi tatanan sosial baru yang berlandaskan keadilan, berdimensi inklusif, dan bervisi keadaban.

Kurang diterimanya gerakan dakwah Rasulullah Saw. di tengah ruang sosial-budaya Mekkah periode awal menjadi alasan hijrah. Karena itu, hijrah dalam konteks ini dapat dibayangkan sebagai perpindahan dari ruang yang kurang kondusif menuju ruang baru yang lebih baik.

Memasuki era modern, khususnya setelah 14 abad pasca peristiwa hijrah tersebut, masyarakat muslim hidup dalam dunia yang sangat berbeda. Perpindahan atau mobilitas penduduk pun tidak selamanya terjadi secara fisik, tetapi juga berlangsung dalam dua jenis ruang sekaligus, yakni ruang nyata yang berbasis teritorial dan ruang virtual yang berciri deteritorial.

Fenomena kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, serta keagamaan dewasa ini makin banyak berlangsung secara virtual di ruang digital. Realitas modern tersebut mengajak kita membaca ulang makna hijrah yang dahulu dari Mekkah ke Madinah; kini manusia sedang berhijrah ke ruang virtual.

Gejala sosial ini tidak murni sebagai peristiwa teknologi, tetapi berhubungan dengan perubahan fundamental terhadap cara manusia berinteraksi, membangun identitas, menimba ilmu pengetahuan, serta menjalani kehidupan sosial. Dengan demikian, melalui momentum peringatan Tahun Baru Hijriah pada 16 Juni 2026 Masehi ini, mari menengok realitas sosial kehidupan umat Islam, khususnya setelah berhijrah ke ruang virtual.

Fenomena Ruang Digital

Hadirnya internet setidaknya dalam beberapa dekade belakangan ini, pada faktanya telah mengubah secara mendasar hampir semua dimensi kehidupan manusia. Berbagai aktivitas pertemuan maupun transaksi yang sebelumnya harus dilakukan melalui kehadiran fisik, kini dapat dilakukan secara virtual di depan layar ponsel.

Muncullah ungkapan bahwa saat ini dunia dan berbagai aktivitas berada di ujung jari kita. Tengoklah, aktivitas belajar mengajar telah berlangsung secara daring, transaksi ekonomi berpindah ke marketplace (e-commerce), rapat kerja dilakukan secara daring, seminar berubah menjadi webinar, serta aktivitas sosial keagamaan pun dilakukan secara online melalui platform media sosial maupun berbagai aplikasi komunikasi.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *