News

Sengkarut Program MBG: Investor Dapur Mulai Berteriak, Gus Hilmi Sampaikan Kritik Menohok



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, giliran para pengusaha dan investor Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang mulai menyuarakan kekecewaan mereka akibat ketidakpastian regulasi dan operasional di lapangan.

Menanggapi fenomena tersebut, tokoh agama sekaligus pengamat sosial, Hilmi Firdausi atau yang akrab disapa Gus Hilmi, melayangkan kritik tajam melalui akun X resminya, @Hilmi28, pada Selasa (9/6/2026).

Gus Hilmi menyoroti banyaknya pihak yang sebelumnya mengklaim diri sebagai ‘relawan’, namun kini meradang ketika bisnis dapur MBG mengalami kendala operasional.

“Satu persatu para pengusaha dan investor MBG berteriak karena ketidakberesan program ini. Btw, jgn lagi sebut mereka relawan yaa… relawan itu rela bahkan jika tdk dibayar 😊,” tulis Gus Hilmi dalam cuitannya.

Lebih lanjut, ia juga mempertanyakan esensi dari keluhan yang muncul. Menurutnya, ketika operasional dapur MBG di beberapa wilayah dihentikan sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN), protes keras justru datang dari kalangan pengusaha, bukan dari masyarakat yang menjadi target penerima manfaat.

“Satu lagi, ketika di beberapa tempat MBG dihentikan sementara kenapa yang teriak pengusahanya ya? Harusnya kan anak-anak sekolah dan ibu hamil penerima manfaat yang teriak-teriak kelaparan karena ga dapat MBG, tapi saya malah belum dengar tuh ada penerima manfaat yang kelaparan gara-gara ga dapat MBG. CMIIW,” tambahnya.

Investor 3T Datangi Kantor BGN

Dalam cuitan tersebut, Gus Hilmi menyertakan sebuah potongan video audiensi berdurasi 40 detik yang menampilkan kemarahan para investor dapur MBG, khususnya dari wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).

Video tersebut memuat narasi utama: “Investor Dapur MBG Daerah 3T Datangi Kantor BGN dan Ngamuk Minta Pembayaran Dapur yang Sudah Dibangun.”

Di dalam video, terlihat perwakilan pengusaha, termasuk asosiasi pengelola SPPG wilayah 3T, berupaya ingin bertemu langsung dengan jajaran pimpinan BGN di Jakarta. Mereka menuntut kejelasan nasib operasional dapur dan kejelasan pembayaran regulasi sewa.

Diketahui, para investor tersebut mengaku telah merugi hingga ratusan juta rupiah karena juknis pembayaran berubah di tengah jalan menjadi sistem sewa operasional, sementara izin operasional dapur yang sudah selesai dibangun tidak kunjung diterbitkan.

Antara Borok Sistem dan Kerugian Vendor

Unggahan Gus Hilmi ini langsung memancing reaksi beragam dari warganet. Kolom komentar dipenuhi oleh analisis sederhana hingga sindiran tajam mengenai tata kelola program bernilai ratusan triliun tersebut.

Beberapa netizen mencoba melihat masalah ini dari sudut pandang logika bisnis logistik dan utang piutang vendor:

  • @sinau1945: “Klo ini sederhana tadz. 1. Kayak kost-an, investor bangun dapur komplit trus BGN sewa rutin. 2. SPPG masak & kirim dlu, minggu depan baru ditagihkan. Jd wajar klo di stop dadakan ya ngamuk, kadung utang/blonjo/masak kok 😅 raja rampok pun ngamuk klo dikibuli ��”
  • @reincarnasi2: “Modalnya udah keluar banyak… tdk baik juga menyalahkan mereka semua nya… yg salah itu penanggung jawab mbg… ga bisa diamanahi… takut ditekan…”

Sementara netizen lainnya justru menilai fenomena ini sebagai bukti bahwa program tersebut dari awal sarat akan kepentingan bisnis kelompok tertentu, bukan murni kesejahteraan rakyat:

  • @dilztwo: “MbeGeh dihentikan. Ortu siswa ngamuk ❌ Pemilik dapur ngamuk ✅ Dari sini jelas ya siapa penerima manfaat terbesar program belanja APBN ratusan triliun itu 😊”
  • @bwahono03: “Itu tandanya memang program mbg bukan untuk siswa tapi untuk pengusaha kroni penguasa.”
  • @angger333: “Aku koq seneng banget nglihatnya, jdi ketauan boroknya BGN tanpa kita cari tau.”

Hingga saat ini, cuitan Gus Hilmi telah disaksikan lebih dari 68 ribu kali dan terus mendapat respons berantai dari publik yang mendesak adanya transparansi dan audit menyeluruh terhadap Badan Gizi Nasional (BGN). (sam/fajar)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *