News

Ekonom: Rupiah dan IHSG Lemah Akibat Sentimen Negatif Pasar ke Prabowo dan Purbaya



PORTALUTAMA.NET,MAKASSAR — Ekonom Universitas Muhammadiyah Makassar, Sutardjo Tui menyebut kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat dipengaruhi sentimen negatif pasar. Terutama terhadap Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.

“Yang terjadi adalah sentimen negatif terhadap Prabowo dan Purbaya. Jadi kondisi ini karena terjadi sentimen terhadap Prabowo dan Purbaya,” kata Sutardjo kepada fajar.co.id, Rabu (10/6/2026).

Nilai rupiah diketahui sempat menyentuh angka Rp18.200, meski per Rabu (10/6) kembali menguat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun juga sempat ambles hingga 4,3 persen.

Menurut Sutardjo, semua itu mengindikasikan sentimen nagatif pasar.

“Karena ini sentimen negatif, nampak jelas sekali bahwa ada sentimen negatif,” terangnya.

Dia menjelaskan, sentimen negatif membuat investor menarik dananya di Indonesia. Lalu mengalihkannya ke Dolar.

“Kenapa? IHSG turun, orang ambila uangnya di situ. Dia tarik, lalu pakai Dolar, akibatnya (rupiah) tertekan,” jelas Sutardjo.

Fundamental Ekonomi Bagus

Sutardjo menilai fundamental ekonomi di Indonesia sebenarnya bagus. Hal itu menurutnya yang mesti jadi penilaian kondisi ekonomi hari ini.

“Melihat kondisi ekonomi itu kan dari fundamental. Ekspor bagus, pertumbuhan ekonomi ok, 5,61, pertumbuhan kredit lebih dua digit. Kita punya pengangguran tidak terlalu berat, jumlah yang beredar 18 persen, semuanya bagus,” jelasnya.

Di sisi lain, soal kenaikan harga BBM non subsidi, menurutnya memang langkah yang mesti diambil pemerintah hari ini.

“Memang itu harus naik. Bahkan terhadap Pertalite saja harus naik. Karena Timur Tengah naik, mestinya harga BBM juga harus naik,” terangnya.

Bahkan menurutnya, kondisinya lebih baik, karena pemerintah tidak menaikkan harga Pertalite.

“Kalau harga pokok naik, harganya juga naik. Tapi pemerintah kan hanya naikkan yang subsidi untuk Pertalite,” ucap Sutardjo.

“Memang harga naik, itu akibat dari BBM naik. Itu kan latah namanya,” tambahnya.

Tapi jika kembali ke fundamental ekonomi, Sutardjo bilang semuanya sebenarnya baik.

“Kalau kembali ke fundamental tidak masalah kok,” pungkasnya.

(Arya/Fajar)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *