News

Masyarakat Adat Rongkong Luwu Utara Tolak 43.690 Hektare Wilayahnya Masuk Proyek Geotermal, Investornya Perusahaan Israel



PORTALUTAMA.NET,MAKASSAR — Sebanyak 14 komunitas adat Rongkong, Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel) menolak proyek geotermal atau panas bumi. Proyek itu akan dibangun di atas 43.690 hektare, dari total luas 68.650 tanah ulayat Rongkong.

Pemangku Adat Uri, Rongkong, M Parmantis mengatakan, selama prosesnya, masyarakat adat tidak pernah dilibatkan. Tiba-tiba saja wilayah penugasan geotermal masuk ke tanah ulayat mereka.

“Hanya yang diundang pada saat itu, aparat desa. Setahu saya. Kami tokoh adat di Rongkong tidak pernah diundang,” kata Parmantis kepada fajar.co.id, Selasa (9/6/2026).

Dia mengungkapkan, 14 komunitas adat di Rongkong menolak proyek tersebut. Karena dianggap bisa memengaruhi eksistensi masyarakat adat.

“Saya tidak tahu masyarakat pada umumnya. Tapi tokoh adat menolak itu,” terang Parmantis.

Investor Perusahaan Asal Israel

Sementara itu, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tana Luwu, Andre Tandi Gau mengatakan, proyek itu melibatkan perusahaan terafiliasi Israel, PT Ormat Geotermal Indonesia.

“Ada (afiliasi Israel). Kami dari AMAN, secara organisasi menolak secara tegas, karena masuk dalam wilayah adat, karena akan merusak situs masyarakat adat, identitas masyarakat adat,” paparnya.

Cadangan panas bumi di area penugasan itu diketahui mencapai 42 megawatt ekuivalen (MWe). PT Ormat bakal melakukan investasi di Rongkong senilai sekitar Rp1,5 triliun.

“Luas penugasannya sekitar 43.690 hektare, itu disampaikan sembilan titik. Itu di Pangkendekan, Rinding Allo, Komba, dan Desa Penekan,” jelas Andre.

Andre bilang, luas 43.690 hektare penugasan PT Ormat tersebut terhampar di tujuh desa.

“Di Rongkong ada tujuh desa, jadi hampir 80 persen wilayah penugasan PT Ormat ini, apakah dia lakukan pengeboran, bisa jadi tidak,” ucapnya.

Andre mengungkapkan, di area penugasan PT Ormat, ada sejumlah situs budaya dan sejarah. Jika hilang, maka identitas masyarakat adat Rongkong juga terancam.

Selain itu, masyarakat yang didominasi mengandalkan hasil bumi sebagai mata pecaharian juga diprediksi bakal terdampak.

“Di sana kan banyak masyarakat adat. Petani, kebun kopi, sawah, yang akan berdampak secara ekologi,” terangnya.
(Arya/Fajar)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *